Senin, 10 Oktober 2022

PSIKOLOGI DAN PERMASALAHAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA

1.1 Pengertian psikologi secara umum “Psikologi” berasal dari perkataan Yunani “psyche” yang artinya jiwa dan “logos” yang artinya ilmu pengetahuan. Secara etimologi psikologi artinya Ilmu yang mempelajari tentang jiwa, baik mengenai macam-macam gejalanya, prosesnya maupun latar belakangnya. Namun, para ahli juga berbeda pendapat tentang arti psikologi itu sendiri. Ada yang berpendapat bahwa psikologi adalah ilmu jiwa. Tetapi ada pula yang berpendapat bahwa psikologi adalah ilmu tentang tingkah laku atau perilaku manusia. (Mahfud, 1992: 6) Carl Gustav Jung, seorang psikoanalisis dari Switzerland (1875- 1961) merupakan salah seorang sarjana yang banyak mencurahkan perhatiannya untuk menyelidiki arti kata psikologi ditinjau dari segi harfiahnya. la mencoba mencari arti dari kata "Psyche" dan arti kata- kata lain yang berdekatan misalnya, ia tertarik pada kata "Anemos" dalam bahasa Yunani berarti angin, sedangkan dalam bahasa Latin kata "animus" dan "anima" masing-masing berarti jiwa dan nyawa. Dalam bahasa Arab, ia mendapatkan kata-kata "ruh" yang berarti jiwa, nyawa ataupun angin. Dengan demikian, ia menduga bahwa ada hubungan antara apa yang bernyawa dengan apa yang bernafas (angin). Jadi psikologi adalah ilmu tentang sesuatu yang bernyawa. Ada sebagian ahli psikologi yang mendefinisikan psikologi bertitik tolak dari anggapan bahwa psikologi haruslah mempelajari sesuatu yang nyata (konkret), maka ada sebagian sarjana yang mengartikan psikologi sama dengan karakterologi atau tipologi. Karakterologi adalah ilmu tentang karakter atau sifat kepribadian dan tipologi adalah ilmu tentang berbagai tipe atau jenis manusia berdasarkan karakternya. Jelas pendefinisian psikologi sebagai karak- terologi atau tipologi saja merupakan pendefinisian yang sempit. Memang psikologi juga mencakup karakterologi dan tipologi, tetapi psikologi bukan hanya mencakup kedua hal itu saja, melainkan lebih luas daripada itu. (1991: 5-7) Bertolak dari definisi psikologi bahwa jiwa itu selalu diekspresikan melalui raga atau badan. Dengan mempelajari ekspresi yang tampak pada tubuh seseorang, maka kita akan dapat mengetahui keadaan jiwa orang yang bersangkutan. Bila berbicara tentang jiwa, terlebih dahulu kita harus membedakan antara nyawa dan jiwa. Nyawa adalah daya jasmaniah yang adanya tergantung pada hidup jasmani dan menimbulkan perbuatan badaniah (organic behavior), yaitu perbuatan yang ditimbulkan oleh proses belajar. Misalnya, instink, reflek, nafsu dan sebagainya. Jika jasmani mati, maka mati pulalah nyawanya. Sedang jiwa adalah daya hidup rohaniah yang bersifat abstrak, yang menjadi penggerak dan pengatur perbuatan- perbuatan pribadi (personal behavior) dari hewan tingkat tinggi dan manusia. Perbuatan pribadi adalah perbuatan sebagai hasil proses belajar yang dimungkinkan oleh keadaan jasmani, rohaniah, sosial, dan lingkungan. Karena sifatnya yang abstrak, maka kita tidak dapat mengetahui jiwa secara wajar, melainkan kita hanya dapat mengenal gejalanya saja. Jiwa adalah sesuatu yang tidak nampak, tidak dapat dilihat oleh alat diri kita. Demikian pula hakekat jiwa, tak seorangpun dapat mengetahuinya. Manusia dapat mengetahui jiwa seseorang hanya dengan tingkah lakunya. Jika tingkah laku itu merupakan kenyataan jiwa yang dapat kita hayati dari luar. Pernyataan itu kita namakan gejala-gejala jiwa, di antaranya; mengamati, menanggapi, mengingat, memikir, dan sebagainya. Dari itulah kemudian orang membuat definisi, ilmu jiwa (psikologi) yaitu ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dalam hubungan dengan lingkungannya. 1.2 Pengertian psikologi Belajar Pengertian “ Psikologi Pembelajaran Menurut Para Ahli Sebagai Berikut (Mahmud, 1991 : 12-15) 1. Lister D. Crow and Alice Crow, Ph. dalam bukunya "Educational Psychology" menyatakan bahwa psikologi pendidikan ialah Ilmu pengetahuan praktis yang berusaha untuk menerangkan belajar sesuai dengan prinsip-prinsip yang ditetapkan secara ilmiah dan fakta-fakta sekitar tingkah laku manusia. 2. W.S. Winkel dalam bukunya "Psikologi Pendidikan dan Evaluasi Belajar" menyatakan bahwa psikologi pendidikan adalah salah satu cabang dari psikologi praktis yang mempelajari prasarat-prasarat (fakta- fakta) bagi belajar di sekolah berbagai jenis belajar dan fase-fase dalam semua proses belajar. Dalam hal ini, kajian psikologi pendidikan sama dengan psikologi belajar. 3. James Draver, dalam "Kamus Psikologi". Psikologi Pendidikan (Educational Psychology); adalah cabang dari psikologi terapan (applied psychology) yang berkenaan dengan penerapan asas-asas dan penemuan psikologis problema pendidikan ke dalam bidang pendidikan. 4. Carl Witherington, dalam bukunya "Educational Psychology". Psikologi Pendidikan; adalah suatu studi tentang proses- proses yang terjadi dalam pendidikan. Belajar dapat didefinisikan sebagai aktivitas yang dilakukan individu secara sadar untuk mendapatkan sejumlah kesan dari apa yang telah dipelajari sebagai hasil dari interaksinya dengan lingkungan sekitarnya. Aktivitas di sini dipahami sebagai serangkaian kegiatan jiwa raga, psikofisik, menuju ke perkembangan pribadi individu seutuhnya, yang menyangkut unsur cipta (kognitif), rasa (afektif), dan karsa (psikomotorik). (2002: 2) Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa psikologi belajar adalah ilmu pengetahuan yang berusaha mempelajari, menganalisis prinsip-prinsip perilaku manusia dalam proses belajar dan pembelajaran. 1.3 Pembelajaran Matematika Pembelajaran Matematika Pembelajaran matematika bagi para siswa merupakan pembentukan pola pikir dalam pemahaman suatu pengertian maupun dalam penalaran suatu hubungan diantara pengertian-pengertian itu. Dalam pembelajaran matematika, para siswa dibiasakan untuk memperoleh pemahaman melalui pengalaman tentang sifat-sifat yang dimiliki dan yang tidak dimiliki dari sekumpulan objek (abstraksi). Siswa diberi pengalaman menggunakan matematika sebagai alat untuk memahami atau menyampaikan informasi misalnya melalui persamaan-persamaan, atau tabel-tabel dalam modelmodel matematika yang merupakan penyederhanaan dari soal-soal cerita atau soal-soal uraian matematika lainnya (Inayati, 2012). Pembelajaran matematika adalah proses interaksi antara guru dan siswa yang melibatkan pengembangan pola berfikir dan mengolah logika pada suatu lingkungan belajar yang sengaja diciptakan oleh guru dengan berbagai metode agar program belajar matematika tumbuh dan berkembang secara optimal dan siswa dapat melakukan kegiatan belajar secara efektif dan efisien (Rusyanti, 2014). Pembelajaran Matematika adalah proses pemberian pengalaman belajar kepada siswa melalui serangkaian kegiatan yang terencana sehingga siswa memperoleh kompetensi tentang bahan matematika yang dipelajari (Sudiati, 2014). Pembelajaran matematika merupakan suatu proses tidak hanya mendapat informasi dari guru tetapi banyak kegiatan maupun tindakan dilakukan terutama bila diinginkan hasil belajar yang lebih baik pada diri peserta didik. Belajar pada intinya tertumpu pada kegiatan memberi kemungkinan kepada peserta didik agar terjadi proses belajar yang efektif atau dapat mencapai hasil yang sesuai tujuan (Safarida, 2011). Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran matematika adalah kegiatan belajar dan mengajar yang mempelajari ilmu matematika dengan tujuan membangun pengetahuan matematika agar bermanfaat dan mampu mengaplikasikannya dalam Kehidupan Sehari – hari 1.4 Pembelajaran Matematika di Sekolah Keberhasilan sebuah pembelajaran tidak hanya di wujudkan dalam sebuah hasil prestasi siswa di sekolah, namun pembelajaran yang berhasil adalah pembelajaran yang mampu mengembangkan apa yang telah dipelajari disekolah dan mengaplikasikan ke dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu (Markaban, 2008). Pembelajaran matematika disekolah diarahkan pada pencapaian standar kompetensi dasar oleh siswa. Kegiatan pembelajaran matematika tidak berorientasi pada penguasaan materi matematika semata, tetapi materi matematika diposisikan sebagai alat dan sarana siswa untuk mencapai kompetensi. Oleh karena itu, ruang lingkup mata pelajaran matematika yang dipelajari di sekolah disesuaikan dengan kompetensi yang harus dicapai siswa. Namun demikian, matematika dipelajari bukan untuk keperluan praktis saja, tetapi juga untuk perkembangan matematika itu sendiri. Jika matematika tidak diajarkan di sekolah maka sangat mungkin matematika akan punah (Fatimah, 2013). Berdasarkan beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa matematika di sekolah memiliki peranan yang sangat penting bagi siswa agar mereka memiliki bekal pengetahuan dan untuk pembentukan sikap serta pola pikirnya. 1.5 Tujuan Pembelajaran Matematika di Sekolah Permendiknas No. 22 tentang Standar Isi Mata Pelajaran Matematika menyatakan bahwa pelajaran matematika Bertujuan agar para siswa (Depdikbud, 2006) : 1. memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep, dan mengaplikasikan konsep atau algoritma secara luwes, akurat, efisien, dan tepat dalam pemecahan masalah. 2. menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika. 3. memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model, dan menafsirkan solusi yang diperoleh. 4. mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah 5. memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah. 1.6 Fungsi Pembelajaran Matematika di Sekolah Fungsi matematika adalah sebagai media atau sarana siswa dalam mencapai kompetensi. Dengan mempelajari materi matematika diharapkan siswa akan dapat menguasai seperangkat kompetensi yang telah ditetapkan. Oleh karena itu, penguasaan materi matematika bukanlah tujuan akhir dari pembelajaran matematika, akan tetapi penguasaan materi matematika hanyalah jalan mencapai penguasaan kompetensi. Fungsi lain mata pelajaran matematika adalah sebagai: alat, pola pikir, dan ilmu atau pengetahuan. Ketiga fungsi matematika tersebut hendaknya dijadikan acuan dalam pembelajaran matematika sekolah. Berikut penjelasan mengenai fungsi pembelajaran matematika (Tonga, 2013): 1. Matematika sebagai suatu alat Guru hendaklah sangat diharapkan agar para siswa diberikan penjelasan untuk melihat berbagai contoh dalam penggunaan matematika sebagai alat untuk memecahkan masalah dalam mata pelajaran lain, dalam kehidupan kerja atau dalam kehidupan sehari-hari. Namun tentunya harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan siswa, sehingga diharapkan dapat membantu proses pembelajaran matematika di sekolah. 2. Matematika sebagai Pola Pikir Siswa diberi pengalaman menggunakan matematika sebagai alat untuk memahami atau menyampaikan suatu informasi misalnya melalui persamaan - persamaan, atau tabel-tabel dalam model-model matematika yang merupakan penyederhanaan dari soal-soal cerita atau soal-soal uraian matematika lainnya. 3. Matematika sebagai Ilmu atau Pengetahuan Sebagai ilmu pengetahuan. pembelajaran matematika di sekolah harus diwarnai oleh fungsi yang ketiga ini. Sebagai guru harus mampu menunjukkan bahwa matematika selalu mencari kebenaran, dan bersedia meralat kebenaran yang telah diterima, bila ditemukan kesempatan untuk mencoba mengembangkan penemuan-penemuan sepanjang mengikuti pola pikir yang sah. 1.7 Kesulitan Pembelajaran Matematika di Sekolah Pengertian Kesulitan Pembelajaran Matematika di Sekolah Kesulitan belajar dapat diartikan sebagai suatu kondisi dalam suatu proses belajar yang ditandai adanya hambatan-hambatan tertentu untuk mencapai hasil belajar. Hambatan-hambatan ini mungkin disadari dan mungkin tidak disadari oleh orang yang mengalaminya, dan dapat bersifat sosiologis, psikologis atau fisiologis dalam keseluruhan proses belajarnya (Alfani’ma, 2011). Kesulitan belajar adalah suatu kondisi dimana kompetensi atau prestasi yang dicapai tidak sesuai dengan kriteria standar yang telah ditetapkan. Kondisi yang demikian umumnya disebabkan oleh faktor biologis atau fisiologis, terutama berkenaan dengan kelainan fungsi otak yang lazim disebut sebagai kesulitan dalam belajar spesifik, serta faktor psikologis yaitu kesulitan belajar yang berkenaan dengan rendahnya motivasi dan minat belajar (Hariyanto, 2011). Menurut Lerner ada beberapa karakteristik anak berkesulitan belajar matematika, yaitu 1. adanya gangguan dalam hubungan keruangan, 2. abnormalitas persepsi visual, 3. asosiasi visual-motor, 4. perseverasi, 5. kesuliatan mengenal dan memahami simbol, 6. gangguan penghayatan tubuh, 7. kesulitan dalam bahasa dan membaca, dan 8. performance IQ jauh lebih rendah daripada sekor verbal IQ Berikut ini akan diuraikan oleh Subini masing-masing kelompok kesulitan dalam belajar matematika (Fitriana, 2015) : 1. Mengelompokkan (classification) Classification merupakan kemampuan anak dalam mengelompokkan suatu benda berdasarkan sesuatu, misalnya ukuran, jenis, warna, bentuk dan sebagainya. 2. Membandingkan (comparation) Comparation adalah kemampuan untuk membandingkan dua buah benda berdasarkan ukuran ataupun jumlahnya. 3. Mengurutkan (seriation) Seriation adalah kemampuan membandingkan ukuran atau kuantitas lebih dari dua buah benda. 4. Menyimbolkan (symbolization) Symbolization adalah kemampuan membuat simbol atas kuantitas. 5. Konservasi Konservasi merupakan kemampuan memahami, mengingat, dan menggunakan suatu kaidah yang sama dalam proses (operasi) yang memiliki kesamaan. Berdasarkan beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa kesulitan belajar merupakan suatu kondisi di mana siswa tidak dapat belajar akibat adanya gangguan-gangguan sehingga berpengaruh terhadap kurangnya pemahaman siswa baik yang berasal dari dalam ataupun dari luar diri siswa itu sendiri sehingga tidak dapat mencapai hasil belajar yang maksimal. Faktor Penyebab Kesulitan Pembelajaran Matematika Menurut Subini faktor penyebab kesulitan belajar pada siswa dibedakan menjadi dua, yaitu faktor internal dan eksternal (Fitriana, 2011). Faktor Internal Faktor internal yaitu faktor yang berasal dari dalam diri siswa itu sendiri. Faktor ini merupakan faktor utama yang mempengaruhi kesulitan pada anak. Faktor internal dibagi menjadi dua, yaitu: 1. Faktor jasmaniah yang meliputi kesehatan Dapat menyebabkan munculnya kesulitan belajar pada siswa seperti kondisi siswa yang sedang sakit, adanya kelemahan atau cacat tubuh, dan sebagainya. 2. Faktor psikologi yang meliputi: a. Kebiasaan Belajar Cara-cara belajar yang paling sering dilakukan oleh siswa dan cara atau kebiasaan belajar dapat terbentuk dari aktifitas belajar, baik secara sengaja ataupun tidak sengaja. b. Intelegensi suatu kemampuan mental atau pun rohani yang melibatkan proses berpikir secara rasional untuk meyesuaikan diri kepada situasi yang baru. c. Motivasi Belajar kecenderungan siswa dalam melakukan segala kegiatan belajar yang didorong oleh hasrat untuk mencapai prestasi atau hasil belajar sebaik mungkin. d. Kecakapan Belajar Faktor Eksternal Faktor eksternal adalah yang dipengaruhi oleh kondisi lingkungan di sekitar siswa. Faktor eksternal meliputi tiga hal antara lain: 1. Faktor keluarga Keluarga adalah lingkungan pertama yang paling berpengaruh pada kehidupan anak sebelum kondisi di sekitar anak (masyarakat dan sekolah). Pada lingkungan keluarga yang mempengaruhi tingkat kecerdasan atau hasil belajar pada anak yaitu cara mendidik anak, relasi antar anggota keluarga, suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga, pengertian orang tua, latar belakang kebudayaan. 2. Faktor sekolah Sekolah merupakan tempat belajar anak setelah keluarga dan masyarakat sekitar. Faktor lingkungan sekolah yang dapat mempengaruhi kesulitan belajar pada anak yaitu, guru, metode mengajar, instrumen atau fasilitas, kurikulum 10 sekolah, relasi guru dengan anak, relasi antar anak, disiplin sekolah, pelajaran dan waktu, standar pelajaran, kebijakan penilaian, keadaan gedung, tugas rumah. 3. Faktor masyarakat Selain dalam keluarga dan sekolah, anak juga berinteraksi dengan lingkungan masyarakat. Peran masyarakat sangat mempengaruhi individu dalam belajar. Setiap pola masyarakat yang mungkin menyimpang dengan cara belajar di sekolah akan cepat sekali menyerap ke diri individu, karena ilmu yang didapat dari pengalamannya bergaul dengan masyarakat akan lebih mudah diserap oleh individu daripada pengalaman belajarnya di sekolah. Jadi peran masyarakat akan dapat merubah tingkah laku individu dalam proses belajar 1.8 Pengertian Belajar Menurut Hamalik, (1992) belajar mengandung pengertian terjadinya perubahan dari persepsi dan perilaku, termasuk juga perbaikan perilaku, misalnya pemuasan kebutuhan masyarakat dan pribadi secara lebih lengkap. Hilgard dan Brower dalam Hamalik (1992: 45) menyatakan bahwa belajar adalah perubahan dalam perbuatan melalui aktivitas, praktik, dan pengalaman. Sedangkan Sardiman (1990: 22) menyatakan bahwa belajar merupakan suatu perubahan tingkah laku atau penampilan, dengan serangkaian kegiatan seperti dengan membaca, mengamati, mendengarkan, meniru, dan lain sebagainya. Barlow (1996: 61-63) menyatakan bahwa belajar adalah a process of progressive behavior adaptation (proses adaptasi atau penyesuaian tingkah laku yang berlangsung secara progresif). Di dalam Dictionary of Psychology disebutkan bahwa belajar adalah perolehan perubahan tingkah laku yang relatif menetap sebagai akibat latihan dan pengalaman. Hintzman (1978) berpendapat bahwa “belajar adalah suatu perubahan yang terjadi dalam diri organisme, manusia atau hewan, disebabkan oleh pengalaman yang dapat mempengaruhi tingkah laku organisme tersebut”. Dalam pandangan Hintzman, perubahan yang ditimbulkan oleh pengalaman tersebut baru dapat dikatakan belajar apabila mempengaruhi organisme. Dewey menambahkan bahwa pengalaman hidup sehari-hari dalam bentuk apa pun sangat memungkinkan untuk diartikan sebagai belajar. Alasannya, sampai batas tertentu pengalaman hidup juga berpengaruh besar terhadap pembentukan kepribadian organisme yang bersangkutan. Mungkin, inilah dasar pemikiran yang mengilhami gagasan belajar sehari-hari (everyday learning) yang dipopulerkan oleh Profesor John B. Biggs. Reber (1989) membatasi belajar dengan dua macam definisi. Pertama, belajar adalah proses memperoleh pengetahuan (the process of acquiring knowlegde). Pengertian ini biasanya lebih sering dipakai dalam pembahasan psikologi kognitif yang oleh sebagian ahli dipandang kurang representatif karena tidak mengikutsertakan perolehan keterampilan nonkognitif. Belajar sebagai proses perubahan perlu diperhatikan pula upaya untuk mengubah mainseet siswa-siswi yang bias gender menjadi inklusif gender. permanent change in respons potentiality which occurs as a result of reinforced practice). Dalam definisi ini terdapat empat macam istilah yang esensial dan perlu disoroti untuk memahami proses belajar. Istilah-istilah tersebut meliputi (1) secara umum menetap (relatively permanent); (2) kemampuan bereaksi (response potentiality); (3) yang diperkuat (reinforced); Biggs (1991) mendefinisikan belajar dalam tiga macam rumusan, yaitu rumusan kuantitatif, rumusan institusional, dan rumusan kualitatif. Dalam rumusan-rumusan ini, kata-kata seperti perubahan dan tingkah laku tidak lagi disebut secara eksplisit mengingat kedua istilah ini sudah menjadi kebenaran umum yang diketahui semua orang dalam proses pendidikan. Secara kuantitatif (ditinjau dari sudut jumlah), belajar berarti kegiatan pengisian atau pengembangan kemampuan kognitif dengan fakta sebanyak-banyaknya. Jadi, belajar dalam hal ini dipandang dari sudut berapa banyak materi yang dikuasai siswa/siswi. Secara institusional (tinjauan kelembagaan), belajar dipandang sebagai proses validasi (pengabsahan) terhadap penguasaan siswa/siswi atas materi-materi yang telah dipelajari. Bukti institusional yang menunjukkan siswa/siswi telah belajar dapat diketahui dalam hubungannya dengan proses mengajar. Ukurannya ialah semakin baik mutu mengajar yang dilakukan guru maka akan semakin baik pula mutu perolehan siswa/siswi yang kemudian dinyatakan dalam bentuk skor atau nilai. Makmun (2003: 159) menyimpulkan bahwa perubahan dalam konteks belajar itu dapat bersifat fungsional atau struktural, material, dan behavioral, serta keseluruhan pribadi. Pendapat ini sejalan dengan pendapat Hilgard dan Bower (1981) yang mengemukakan bahwa belajar dapat diartikan sebagai perubahan tingkah laku yang relatif permanen dan yang merupakan hasil proses pembelajaran bukan disebabkan oleh adanya proses kedewasaan. Thorndike dalam Gala (2006: 51) berpendapat bahwa belajar adalah proses orang memperoleh berbagai kecakapan, keterampilan, dan sikap. Belajar merupakan tindakan dan perilaku siswa/siswi yang kompleks sebagai tindakan, maka belajar hanya dialami oleh siswa/siswi sendiri. Timbulnya aneka ragam pendapat para ahli tersebut adalah fenomena perselisihan yang wajar karena adanya perbedaan titik pandang. Selain itu, perbedaan antara satu situasi belajar dengan situasi belajar lainnya yang diamati oleh para ahli juga dapat menimbulkan perbedaan pandangan. Situasi belajar menulis, misalnya, tentu tidak sama dengan situasi belajar matematika. Meskipun demikian, dalam beberapa hal tertentu yang mendasar mereka sepakat seperti dalam penggunaan istilah "berubah" dan "tingkah laku". Berdasarkan berbagai definisi yang telah diutarakan di atas, secara umum belajar dapat dipahami sebagai tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yang relatif menetap sebagai basil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang Melibatkan Proses Kognitif. Hubungan Psikokogi Dengan Permasalahan dalam Pembelajaran hubungan psikologi mempunyai timbal balik, pendidikan mempunyai peran pada pembimbingan hidup individu dari lahir sampai masuk dalam liang lahat, dan pendidikan tidak berjalan tanpa adanya psikologi perkembangan. Watak dan juga kepribadian setiap individu tercermin dari psikologinya Bentuk Permasalahan Pembelajaran Matematika di sekitar anda dari Segi Siswa 1. Kurang ada Keberanian Siswa Untuk Memberikan Pendapat / Bertanya Mengakibat Pembelajaran Bersifat Pasif Satu arah tanpa adanya timbal Balik dari siswa. Yang Terkadang siswa Tersebut Mera Takut Untuk Memberikan Pendapatnya 2. Aktifitas bertanya dalam kelas sangat rendah jadi Proses Pembelajaran dikelas hanya satu orang tanpa ada timbal balik dari siswa 3. Kurang adanya minat dan kreatifitas siswa untuk mendapatkan referensi lain baik dari Buku, internet jadi pembelajaran hanya terfokus menerima pembelajaran yang hanya disampaikan oleh guru yang dimaka terkadang dikejar oleh kurikulum dan waktu yang hanya sedikit Permasalahan Pembelajaran Matematika di sekitar anda dari Segi Guru 1. Para guru cenderung menyelesaikan materi dari pada pemahaman materi matematika. Kalau pada suatu saat guru menghadapi kenyataan bahwa pemahaman siswa terhadap suatu konsep yang diajarkan belum memadai di satu sisi lain (sesuai kalender) materi harus diselesaikan, maka guru lebih memilih menyelesaikan materi. 2. Keputusan guru tersebut akan mengakibatkan proses pembelajaran berikutnya menjadi tidak efektif. Konsep berikutnya akan sulit dipahami siswa, karena konsep sebelumnya (yang mendasarinya) belum dikuasai dengan baik. Matematika mempunyai struktur yang bersifat hierarkis, sehingga dalam mempelajarinya haruslah bertahap dan berurutan serta mendasarkan pada pengalaman belajar yang lalu 3. Guru Matematika kesulitan Mengembangkan media Pembelajaran yang sesuai dengan materi yang disampaikan yang dapat lebih menarik siswa untuk mempelajari materi yang disampaikan 4. Guru Matematika Kesulitan menerapkan Metode Pembelajaran yang sesuai. Yang pada realitanya pembelajaran di sekolah masih menggunakan metode konfensional / tradisional yang dimana guru menjelaskan dan siswa mendengar dan mencatat seharusnya guru mengembangkan metode kopeeratif sesuai dengan materi yang disampaikan Permasalahan Pembelajaran Matematika di sekitar anda dari Segi Lingkungan 1. Permasalahn segi lingkungan selalu ber asumsi bahwa pembelajaran matematika itu merupakan pembelajaran yang sulit hal ini mengakibatnya siswa terkadang kurang meminati pembelajaran matematika 2. Permasalahan kemajuan teknologi berpengaruh negative terhadap konsentrasi belajar peserta didik yang dimana dalam kemajuan teknologi internet. siswa lebih mementingkan menggunakan internet untuk media sosial, menonton youtube dan bermain game online ini menyebabkan tingkat kemandirian belajar yang sangat kurang 3. Permasalahan kurang aktif nya peserta didik mengikuti kegiatan organisasi di lingkungan misalkan Risma, Karang taruna Sehingga tidak adanya kreatifitas lain yang dapat membantu siswa untuk lebih membangun diri terutam di linkungan sekitar area tempat tinggal siswa Permasalahan Pembelajaran Matematika di sekitar anda dari Segi Segi Orang Tua 1. Kurang Mampunya Orang Tua dalam membantu siswa dalam menyelesaikan Tugas yang diberikan oleh guru terutama dalam proses pembelajaran Daring dan Terkadang Kita Juga Harus Maklum Bahwa sebagian Besar Tingkat pendidikan orang siswa rata-rata Tamatan Sekolah Dasar 2. Kurangnya perhatian orang tua orang tua, dan fasilitas belajar matematika di rumah yang kurang, ini di karenakan kesibukan orang tua. karena di perdesaan mayoritas petani yang dimana pergi kerja ke lading subuh pulang magrib yang dimana jadi waktu untuk memberi perhatian sedikit berkurang karena pada waktu malam di jadikan waktu untuk istirahat. Hal ini terjadi di setiap harinya.

Minggu, 29 Oktober 2017

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sekolah adalah lembaga bersifat kompleks dan unik. Bersifat kompleks karena sekolah merupakan organisasi yang didalamnya terdapat dimensi satu sama lain yang saling berkaitan dan menentukan. Sementara bersifat unik sekolah sebagai organisasi memiliki ciri tertentu yang tidak dimiliki oleh organisasi – organisasi lain. Ciri yang dimiliki yaitu terjadinya proses belajar mengajar. Karena bersifat kompleks dan unik inilah maka seorang kepala sekolah memiliki peranan penting dalam upaya membentuk insan indonesia yang cerdas dan kompetitif melalui kesungguhan dan kreatifitasnya dalam mengelola sekolah yang menjadi tanggung jawabnya. Permendiknas RI No 28 tahun 2010 tentang penugasan guru sebagai kepala sekolah menjadi langkah awal bagi peningkatan profesionalisme seorang kepala sekolah atau calon kepala sekolah dalam permendiknas tersebut dinyatakan bahwa seorang guru yang telah dinyatakan lulus seleksi calon kepala sekolah harus mengikuti pendidikan dan pelatihan sebagai kegiatan pemberian pengalaman pembelajaran teori maupun praktik. Kepala sekolah adalah guru yang mendapat tugas tambahan sebagai kepala sekolah, selain dari tugas pokok sebagai guru, kepala sekolah sebagai orang yang bertanggung jawab artinya merencanakan, melaksanakan dan mengelola untuk tanggung jawab berdasarkan permen No 13 tahun 2007 tentang standar kepala sekolah/madrasah menyatakan ada 5 (Lima) kompetensi yang harus dimiliki diantaranya : yaitu, Kompetensi Kepribadian, Kompetensi Manajerial, Kompetensi Kewirausahaan, Kompetensi Supervisi dan Kompetensi Sosial. Dasar kompetensi kepribadian ini akan sangat menentukan kompetensi lainnya, khususnya dalam melaksanakan program pendidikan nasional, propinsi, dan kabupaten/kota. Sebagai tambahan pengetahuan dan keilmuan dalam bidang perencanaan dan pelaksanaan program pendidikan, kepala sekolah harus mampu menunjukkan kinerjanya berdasarkan kebijakan, perencanaan, dan program pendidikan. Kompetensi manajerial merupakan kompetensi kepala sekolah dalam memahami sekolah sebagai sistem yang harus dipimpin dan dikelola dengan baik, di antaranya adalah pengetahuan tentang manajemen. Dengan kemampuan dalam mengelola ini nantinya akan dijadikan sebagai pegangan cara berfikir, cara mengelola dan cara menganalisis sekolah dengan cara berpikir seorang kepala sekolah. Kepala sekolah juga harus memiliki kompetensi kewirausahaan. Sebagai salah satu cara bagaimana sekolah mampu mewujudkan kemampuan dalam wirausahanya ini maka kepala sekolah harus mampu menunjukkan kemampuan dalam menjalin kemitraan dengan pengusaha atau donatur, serta mampu memandirikan sekolah dengan upaya berwirausaha. Kompetensi supervisi ini sangat strategis bagi seorang kepala sekolah khususnya dalam memahami apa tugas dan fungsi kepala sekolah sebagai pemimpin sekolah. Tugas dan fungsi dari supervisi ini adalah untuk memberdayakan sumber daya sekolah termasuk guru. Salah satunya adalah melaksanakan supervisi akademik terhadap guru dengan menggunakan pendekatan dan teknik supervisi yang tepat. Dalam rangka meningkatkan mutu kepala sekolah/madrasah, pemerintah mengeluarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 28 tahun 2010 tentang Penugasan Guru sebagai Kepala Sekolah/Madrasah. Permendiknas ini memuat sistem penyiapan calon kepala sekolah/ madrasah, proses pengangkatan kepala sekolah/madrasah, masa tugas, Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB), penilaian kinerja kepala sekolah/madrasah, mutasi dan pemberhentian tugas guru sebagai kepala sekolah/madrasah. Menindaklanjuti Permendiknas Nomor 28 Tahun 2010, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Kepala Sekolah (LPPKS) mengadakan pendidikan dan latihan calon kepala sekolah. Setelah melalui tahapan seleksi administrasi dan seleksi akademik. Diklat tersebut dilaksanakan oleh LPPKS melalui kegiatan in service 1, On the Job Learning (OJL), dan in service 2. Kegiatan On the Job Learning (OJL) penting bagi peserta diklat calon kepala sekolah untuk mempraktikkan kompetensi yang telah dipelajari selama kegiatan in service 1. Dalam On the Job Learning (OJL) dipraktikkan bagaimana mengkaji RKS, pengelolaan kurikulum sekolah, pengelolaan keuangan, pembinaan tenaga administrasi sekolah, pengelolaan peserta didik, pengelolaan sarana prasarana sekolah, pengelolaan pendidikan dan tenaga kependidikan, pemanfaatan TIK dalam pembelajaran, sistem monitoring dan evaluasi, program supervisi guru yunior, menyusun perangkat pembelajaran, dan pelaksanaan rencana tindak kepemimpinan berdasarkan AKPK. Kegiatan On the Job Learning (OJL) dilaksanakan pada 2 sekolah magang, yaitu pada sekolah tempat calon kepala sekolah bertugas dan sekolah lain. Sebagai peserta Diklat calon kepala sekolah Kabupaten Empat Lawang, penulis melaksanakan On the Job Learning (OJL) pada SMA Negeri 1 Pasemah Air Keruh (sekolah tempat penulis bertugas) dan SMA Negeri 1 Ulu Musi (sekolah magang lain). Berdasarkan petunjuk teknis pelaksanaan On the Job Learning (OJL), maka penulis melaksanakan On the Job Learning (OJL) pada SMA Negeri 1 Pasemah Air Keruh dan pada SMA Negeri Negeri 1 Ulu Musi. Berdasarkan hasil pelaksanaan On the Job Learning (OJL) pada SMA Negeri 1 Pasemah Air Keruh dan pada SMA Negeri Negeri 1 Ulu Musi, penulis menyusun laporan akhir On the Job Learning (OJL). Laporan ini merupakan salah satu tugas wajib peserta Diklat calon kepala sekolah berdasarkan kondisi nyata di lapangan untuk meningkatkan kompetensi calon kepala sekolah. B. Tujuan On the Job Learning (OJL) Berdasarkan latar belakang di atas, maka yang menjadi tujuan laporan On the Job Learning (OJL) ini adalah untuk mengetahui dan dapat meningkatkan: Menghasilkan kepala sekolah yang mampu mengembangkan dan meningkatkan 5 kompetensi berdasarkan Permendiknas Nomor 13 Tahun 2007, Kompetensi yang dimaksud berupa kompetensi kepribadian, manajerial, sosial, kewirausahaan, dan supervisi melalui analisis 9 Standar Nasional Pendidikan (SNP) yang dituangkan dalam peningkatan kompetensi berdasarkan AKPK. Menghasilkan kepala sekolah yang dapat mengarahkan dan menggerakkan guru untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah. Menghasilkan kepala sekolah yang mampu mengidentifikasi masalah yang terkait dengan standar nasional pendidikan (SNP). Menghasilkan kompetensi manajerial melalui pengkajian Rencana Kerja Sekolah (RKS), pengelolaan keuangan sekolah, pengelolaan pendidikan dan tenaga kependidikan, pengelolaan ketatausahaan sekolah, pengelolaan sarana prasarana sekolah, pengelolaan kurikulum, pengelolaan peserta didik, pemanfaatan TIK dalam pembelajaran, dan sistem monitoring dan evaluasi pada SMA Negeri 1 Pasemah Air Keruh dan SMA Negeri 1 Ulu Musi. Menghasilkan kepala sekoalah yang mampu melakukan supervisi akademik kepada guru dengan teknik yang benar. Menghasilkan kepala sekolah yang mampu bekerja sama dengan pihak lain untuk mendukung pelaksanaan kegiatan pendidikan di sekolah. Meningkatkan kinerja sekolah khususnya pada Standar Nasional Pendidikan (SNP). terutama seorang guru dalam pembuatan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang sesuai dengan standar nasional maka calon kepala sekolah mengangkat tema “ Meningkatkan Kemampuan Guru Dalam Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Sesuai Standar Nasional melalui Workshop di SMA Negeri 1 Pasemah Air Keruh” C. Hasil yang Diharapkan Setelah kegiatan On the Job Learning (OJL) ini dilakukan maka sebagai calon kepala sekolah harus memiliki kemampuan untuk : Mengintegrasikan nilai-nilai spiritual dalam setiap kegiatan On the Job Learning (OJL), khususnya pada pelaksanaan RTK. Mengintegrasikan nilai-nilai kewirausahaan dalam setiap kegiatan On the Job Learning (OJL), khususnya pada pelaksanaan RTK. Mengintegrasikan nilai-nilai kepemimpinan yang selalu menempatkan pembelajaran pada prioritas utama dalam pengambilan keputusan. Meningkatkan kemampuan guru kelas dan mata pelajaran dalam membuat media pembelajaran. Menyusun perangkat pembelajaran (RPP, bahan ajar dan evaluasi) sesuai standar. Setiap kepala sekolah harus memiliki dan menguasai konsep supervisi akademik yang meliputi : pengertian, tujuan, fungsi dan prinsip – prinsip serta dimensi subtansi supervisi akademik. Supervisi akademik dilakukan kepala sekolah antara lain. Membimbing guru dalam memilih dan menggunakan metode / teknik pembelajaran yang dapat menggembangkan potensi siswa. Membimbing guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran. Memotivasi guru dalam membafaatkan teknologi dan informasi dalam pembelajaran. Memetakan kesenjangan sekolah sendiri dan sekolah magang lain dan menyusun alternatif solusi untuk mengatasi kesenjangan. Melaksanakan pra-observasi, observasi dan post-observasi dalam supervisi guru junior. Dari uraian ditas, diharapkan setelah melakukan On The Job Learning (OJL) calon kepala sekolah akan mendapatkan bekal yang cukup untuk menjadi seorang kepala sekolah yang profesional, menguasai kompetensi kepala sekolah sesuai dengan Permendiknas nomor 13 tahun 2007. BAB II KONDISI NYATA SEKOLAH SENDIRI Kondisi Sekolah Lain (SMA Negeri 1 Pasemah Air Keruh) SMA Negeri Pasemah Air Keruh berlokasi di Desa Pasemah Air Keruh Kecamatan Pasemah Air Keruh Kabupaten Empat Lawang Provinsi Sumatera Selatan, yang dibangun pada tahun 2005 kegiatan belajar mengajar mulai berjalan pada tahun 2006 di atas lahan seluas 12.465 m2. Adapun Visi, Misi dan Tujuan Pendidikan di SMA Negeri Pasemah Air Keruh sebagai berikut Visi “Berkualitas, Berahlak Mulia dalam Era Globalisasi” Misi Membentuk Pribadi yang islami. Melaksanakan profesi input, transportasi dan output yang baik dan dapat dipertanggung jawabkan. Menumbuh kembangkan sikap kreatif, inovatif terhadap warga sekolah. Membentuk pribadi siswa yang memiliki kecerdasaan akademik. Membentuk pribadi siswa yang mencintai kerapian dan keindahan lingkungan sekolah Melaksanakan penyaluran bakat dan prestasi siswa keperguruan tinggi negeri seluruh indonesia. Melaksanakan KBM yang efektif didalam menghadapi UMPTN Menjadikan lingkungan sekolah yang berbudaya, Tujuan Mempersiapakan peserta didik yang memiliki prestasi akademik dalam perlombaan tingkat daerah dan provinsi. Mempersiapakan peserta didik untuk menjadi manusia yang berkepribadian, cerdas, berkualitas dan berprestasi dalam bidang olahraga dan seni. Memilki tim debat bahsa inggris yang mampu memenangkan perlombaan tingkat provinsi. Mempersiapkan peserta didik yang bertaqwa kepada tuhan yang maha esa dan sekaligus berahlak mulia. Membekali peserta didik untuk memiliki keterampilan teknologi informasi dan komunikasi dan dapat dimamfaatkan dalam pelajaran secara maksimal. Menanamkan sikap disiplin bagi warga sekolah. Menanamkan sikap kepedulian warga sekolah terhadap lingkungan hidup. Memiliki kualitas pelayanan yang baik terhadap pengguna layanan di lingkungan sekolah Gambaran Umum SMA Negeri 1 Pasemah Air Keruh dengan Nomor Statistik Sekolah (NSS) 30.111.05.05.158, NPSN 10.644.260, alamat Jalan Raya Pasemah Air Keruh Desa Muara Sindang Pasemah Air Keruh Kabupaten Empat Lawang Provinsi Sumatera Selatan, tahun pendirian 2005 luas tanah 12.465 m2, status negeri, nilai akreditasi A. Jumlah sisiwa dalam 3 (Tiga) tahun ajaran terakhir, tahun 2014-2015 kelas X : jumlah 231 siswa, kelas XI : jumlah 181 siswa, kelas XII : jumlah 148 siswa, jumlah keseluruhan 560 siswa. Tahun 2015-2016 kelas X : jumlah 230 siswa, kelas XI : jumlah 222 siswa, kelas XII : jumlah 156 siswa, jumlah keseluruhan 608 siswa. Tahun 2016-2017 kelas X : L: 85 siswa P: 97 siswa, jumlah 182 siswa, kelas XI : L: 117 siswa P: 98 siswa, jumlah 215 siswa, kelas XII : L: 95 siswa P: 84 siswa, jumlah 194 siswa, jumlah keseluruhan L : 300 siswa P : 291 siswa, jumlah 591 siswa. Data pendidik dan tenaga kependidikan : Rusli Zakaria, S.P., M.Pd tempat tanggal lahir Lahat, 06-03-1969, jenis kelamin laki-laki, NIP. 196903062006041005, golongan III/c, jabatan kepala sekolah dan guru mata pelajaran Fisika, status PNS. Gunturman, S.Pd., M.Pd tempat tanggal lahir Pasemah Air Keruh, 04-07-1968, jenis kelamin laki-laki, NIP.196807041997031007, golongan IV/a, jabatan Waka Kesiswaan dan guru mata pelajaran Biologi, status PNS. Iran Sairan, S.Pd tempat tanggal lahir Bandar Agung, 03-01-1981, jenis kelamin Laki-laki, NIP.198101032011011002, golongan III/b, jabatan Waka Kurikulum dan guru mata pelajaran Matematika, status PNS. Afintori, S.Pd., tempat tanggal lahir Padang Bindu, 13-07-1981, jenis kelamin laki-laki, NIP.198107132010011009, golongan III/b, jabatan guru mata pelajaran Sejarah, Status PNS. Tri Agustina, S.Pd tempat tanggal lahir Bandung, 11-081986, jenis kelamin Perempuan, NIP.198608112010012014, golongan III/b, jabatan guru mata pelajaran Matematika, Status PNS. Marsah, tempat tanggal lahir Lahat, 16-03-1985, jenis kelamin perempuan,NIP.198503162010012017 golongan III/b, jabatan guru mata pelajaran Fisika, Status PNS. Lidia Arlini, S.Pd, tempat tanggal lahir Palembang, 12-06-1980, jenis kelamin perempuan,NIP. 198006122011012007 golongan III/a ,jabatan guru mata pelajaran Kimia,status PNS, Anatul Asmi,S.Pd.I, tempat tanggal lahir Batu Ampar, 06-11-1978 , jenis kelamin perempuan, Nip. 197504152006042016,golongan III/a jabatan guru mata Bahasa Arab ,status PNS, Siti Halima, SE, tempat tanggal lahir Muara Sindang, 23-03-1974, jenis kelamin Perempuan, jabatan guru mata pelajaran Bahasa indonesia, status GTT. Elizah,S.Pd, tempat tanggal lahir kebanjati 11-07-1980, jenis kelamin perempuan,jabatan guru mata pelajaran matematika, status GTT.Verra Shinta,S.Kom, tempat tanggal lahir Air Mayan 24-07-1980, jenis kelamin perempuan, jabatan guru mata T.I.K, status GTT.Herna Deti,S.Pd, tempat tanggal lahir Muara sindang 09-09-1963, jenis kelamin perempuan, jabatan guru mata pelajaran Sosiologi, status GTT. Ramlan efendi, SE, tempat tanggal lahir Muara sindang 18-04-1973 , jenis Laki-laki, jabatan guru mata pelajaran Ekonomi, status GTT. Tarmizi Izul,SH, tempat tanggal lahir Padang bindu 09-01-1960, jenis kelamin Laki – Laki , jabatan guru mata pelajaran PPKN, status GTT. Mei Ana Tri Darwati,S.Pd tempat tanggal lahir Yogyakarta 01-05-1979, jenis kelamin Perempuan, jabatan guru mata pelajaran Bahasa Indonesia, status GTT. Aliah,S.Pd.I, tempat tanggal lahir Nanjungan 23-05-1984, jenis kelamin perempuan, jabatan guru mata P.A.I, status GTT. Sutanti,S.Pd, tempat tanggal lahir Purwodadi, 14-01-1987, jenis kelamin perempuan, jabatan guru mata pelajaran Matematika, status GTT. Marleni,S.Pd, tempat tanggal lahir Nanjungan, 27-03-1988,jenis kelamin perempuan, jabatan guru mata pelajaran PPKN dan Mulok Pertanian, status GTT. Najamudin,S.Pd, tempat tanggal lahir Air Mayan, 15-12-1958 , jenis kelamin Laki-laki , jabatan guru mata pelajaran Penjaskes, status GTT. Asmawi,S.Pd, tempat tanggal lahir Lawang Agung, 05-03-1984, jenis Laki-laki , jabatan guru mata pelajaran Matematika dan Biologi, status GTT. Icen Arinsen,S.Pd, tempat tanggal lahir Nanjungan, 12-10-1990, jenis kelamin Laki-laki, jabatan guru mata pelajaran Mulok Pertanian, status GTT. Yesi Aprilena,S.Pd, tempat tanggal lahir Air Mayan, 12-09-1987 ,jenis kelamin perempuan, jabatan guru mata pelajaran Bahasa Indonesia, status GTT. Doni Harianto,S.Pd, tempat tanggal lahir Padang Bindu,10-05-1991, jenis kelamin Laki-laki ,jabatan guru mata pelajaran Penjaskes, status GTT. Rika Septa Ambarsari,S.IP, tempat tanggal lahir Kijang, 16-09-1970, jenis kelamin perempuan, jabatan guru mata pelajaran Bahasa Inggris, status GTT. Yega Septa Saputra,S.Pd, tempat tanggal lahir Muara Rungga, 17-09-1991, jenis kelamin Laki-laki, jabatan guru mata pelajaran Ekonomi dan Penjaskes, status GTT. Desmiyana SE, tempat tanggal lahir Talang Baru, 16-09-1990, jenis kelamin Perempuan, jabatan guru mata pelajaran Ekonomi, status GTT.Devi Rahmawati,S.Pd, tempat tanggal lahir Kepahiang, 06-03-1985 ,jenis kelamin perempuan, jabatan guru mata pelajaran Geografi dan Bahasa Arab, status GTT. Hendri,S.Pd, tempat tanggal lahir Pagar Alam, 16-03-1987, jenis kelamin Laki-laki ,jabatan guru mata pelajaran Matematika dan Kimia, status GTT. Pirda Aulia, S.Pd, tempat tanggal lahir Tanjung Beringin 14-06-1988, jenis kelamin perempuan, jabatan guru mata pelajaran Geografi, status GTT. Ahmad Kamilian, S.H.I, tempat tanggal lahir Naga Sari. 02-02-1983, jenis kelamin Laki-laki, jabatan guru mata pelajaran P.A.I, status GTT. Mariansi,S.Pd, tempat tanggal lahir Padang Gelai, 06-03-1985 ,jenis kelamin perempuan, jabatan guru mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Pendidikan Seni, status GTT.Yori Yupiter Juliansyah,S.Pd, tempat tanggal lahir Curup, 23-07-1990, jenis kelamin Laki-laki ,jabatan guru mata pelajaran Matematika dan Fisika, status GTT. Ekta Sartika, S.Pd, tempat tanggal lahir Tanjung Sakti, 16-10-1992, jenis kelamin perempuan, jabatan guru mata pelajaran Bahasa Inggris, status GTT. Robius Pranoto, S.Pd, tempat tanggal lahir Cinta Mandi, 13-02-1991, jenis kelamin Laki-laki, jabatan guru mata pelajaran Sejarah dan Mulok Pertanian status GTT.Anugrah Utami, S.Pd, tempat tanggal lahir Muara Aman ,jenis kelamin perempuan, jabatan guru mata pelajaran Biologi dan Mulok Pertanian, status GTT. Hendri Pasia, tempat tanggal lahir Tanjung Beringin, 10-07-1988, jenis kelamin Laki-laki ,jabatan P.A.I, status GTT. Sunita, S.Pd, tempat tanggal lahir Tanjung Beringin 16-09-1993, jenis kelamin perempuan, jabatan guru mata pelajaran Pendidikan Kesenian, status GTT. Ratno Aprizan, S.Pd tempat tanggal lahir Talang Padang, 27-12-1990 , jenis kelamin Laki-laki, jabatan guru mata pelajaran Bahasa Inggris status GTT. Jeni Charoline, S.Pd, tempat tanggal lahir Padang gelai 16-09-1993, jenis kelamin perempuan, jabatan guru Bimbingan Konseling, status GTT. Alyas, tempat tanggal lahir Talang randai, 23-03-1976, jenis kelamin Laki-laki, staf T.U, status PTT. Dini Warna, tempat tanggal lahir Muara Sindang, 28-05-1979, jenis kelamin perempuan, staf T.U, status PTT. Kalmi Sutanggara, tempat tanggal lahir Tanjung Beringin, 30-09-1987, jenis kelamin perempuan, staf T.U, status PTT. Cik Sunardi, tempat tanggal lahir Tanjung Beringin, jenis kelamin Laki-laki, Satpam, status PTT. April Jimmi, tempat tanggal lahir Padang Bindu, 04-04-1973 jenis kelamin Laki – laki , Jabatan Penjaga Sekolah. Ramlan, tempat tanggal lahir Penantian, 04-09-1976 jenis kelamin laki-laki, jabatan Penjaga Sekolah.. Jumlah rombongan belajar kelas X : 5 rombel, kelas XI : 6 rombel, kelas XII : 6 rombel.Jumlah keseluruhan 17 rombel. Data prasarana : Ruang kelas X : 5 ruangan masing – masing ukuran 8 x 9 m2 kondisi baik status kepemilikan milik. Ruang kelas XI : 6 ruangan masing – masing ukuran 8 x 9 m2 kondisi baik status kepemilikan milik. Ruang kelas XII : 6 ruangan masing – masing ukuran 8 x 9 m2 kondisi baik status kepemilikan milik.Ruang Kepala sekolah 1 ruangan ukuran 3 x 8 m2 kondisi baik status kepemilikan milik.1 Ruang Guru berukuran 8 x 9 m2 kondisi baik.SMAN 1 Pasemah Air Keruh mempunyai 1 ruang tata usaha,1 perpustakaan yang berukuran 10 x 12 m2 kondisi baik,4 Lab yaitu Lab komputer dan Lab Biologi,Lab fisika dan Lap kimia 2 WC guru, 1 WC Kepala Sekolah 3 wc siswa Laki –laki dan 2 Wc Siswa perempuan masing – masing berukuran 5 x 5 m2 kondisi rusak ringan status kepemilikan milik. Status kepegawaian pendidik dan tenaga kependidikan terdiri dari 8 orang PNS dan 31 orang sebagai GTT, 6 orang PTT. Kualifikasi pendidikan S.2 orang, S.1 36 orang dan SLTA 7 orang. Keadaan komite sekolah ketua Ujang zen, sekretaris dan bendahara . TABEL GAMBARAN UMUM SMA NEGERI 1 PASEMAH AIR KERUH Identitas Nama Sekolah SMA Negeri 1 Pasemah Air Keruh NSS 30.111.05.05.158 NPSN 10.644.260 Alamat Jl. Raya Pasemah Air Keruh Desa Muara Sindang Kecamatan Pasemah Air Keruh Kabupaten Empat Lawang Provinsi Sumatera Selatan Tahun Pendirian 2005 Luas Tanah 12.465 m2 Status Negeri Akreditasi A Nilai Akreditasi 93 Data Siswa 3 Tahun terakhir Tahun Pelajaran Kelas X Kelas XI Kelas XII Jmlh ( X + XI + XII) Jumlah siswa Rombel Jmlh Siswa Rombel Jumlah Siswa Rombel Jumlah Siswa Rombel 2014/2015 231 7 rbl 181 4 148 4 rbl 560 15 2015/2016 230 7 rbl 222 6 156 5 rbl 608 16 2016/2017 182 5 rbl 215 6 194 6 rbl 591 17 Data Jumlah Rombongan Belajar No Ruang Kelas Jumlah Rombel 1 Ruang Kelas X 5 Rombel 2 Ruang Kelas XI 6 Rombel 3 Ruang Kelas XII 6 Rombel Data Prasarana No Nama Prasarana Panjang (m) Lebar (m) Kondisi Status Kepemilikan 1 Ruang kelas XI 9 8 Baik Milik 2 Ruang kelas XI 9 8 Baik Milik 3 Ruang kelas XII 9 8 Baik Milik 4 Ruang Kepsek 4 3 Baik Milik 5 Ruang Waka Baik Milik 6 Ruang BK 7 Ruang Kantor 8 9 Baik MIlik 8 Perpustakaan 10 12 Baik Milik 9 WC 5 5 Rusak Ringan Milik 10 Lab. Komputer Baik Milik 11 Lab. Kimia Baik Milik 12 Lab. Biologi Baik Milik 13 Lab Biologi Baik Milik 14 Pos Keamanan Baik Milik 15 Tempat Parkir Baik Milik 16 Kantin Baik Milik 2. Penataan 8 Standar Nasional Pendidikan Standar Isi Kurikulum SMA Negeri 1 Pasemah Air Keruh disusun berdasarkan filosofis, teoritis dan yuridis sehingga diharapkan dapat mengembangkan kehidupan individu peserta didik dalam beragama, seni, kreativitas, nilai dan berbagai intelegensi yang sesuai dengan diri peserta didik dan diperlukan masyarakat, bangsa, negara dan umat manusia diwujudkan melalui berbagai aktifitas dan kreatifitas baik dalam kegiatan intra maupun ekstrakulikuler Kurikulum sekolah memuat 16 mata pelajaran dan 1 pelajaran muatan lokal pengorganisasian kelas pada SMA Negeri 1 Pasemah Air Keruh terdiri atas X, XI, XII melaksanakan kurikulum KTSP dan Penjurusan yang terdiri dari 2 program yaitu Ilmu Pengetahuan Alam dan Ilmu Pengetahuan Sosial. Kegiatan ekstrakulikuler yang disediakan mengacu kepada kebutuhan pengembangan pribadi siswa. Program kegiatan ekstrakulikuler yang disediakan diataranya pembinaan kepramukaan, PKS, Paskibraka, Rohis, Olimpiade Sains dan Olahraga Prestasi. Bagi siswa yang dinyatakan belum mencapai nilai Ketuntasan Minimal dalam Pencapaian kompetensi diberikan kesempatan belajar sendiri indikator- indikator kompetensi yang belum dkuasai untuk mempersiapkan diri dalam mengikuti ulangan perbaikan. Hal ini dilakukan untuk memastikan tercapainya pelayanan kepada siswa yang memerlukan penjelasan ulang tentang kompetensi yang belum disesuaikan ataupun yang ingin dikembangkan. Kegiatan ekstrakulikuler yang disediakan mengacu kepada kebutuhan pengembangkan pribadi siswa. Program kegiatan ekstrakulikuler yang disediakan diantaranya pembinaan kepramukaan , PKS, OSIS, Basket dan Sepak Bola. Pemenuhan akan kebutuhan pengembangkan pribadi siswa dilakukan dengan menyediakan layanan bimbingan konseling (BK), jumlah tenaga konseling yang dimiliki berjumlah 2 orang yang masing – masing memiliki program rencana dan pelaksanakan layanan BK. Standar Proses Silabus yang dikembangkan oleh guru-guru berdasarkan Standar Isi (SI), Standar Kompetensi Lulusan (SKL), dan panduan penyusunan KTSP. Kegiatan penyusunan dan pengembangkan silabus dilakukan secara mandiri atau berkelompok oleh guru-guru di sekolah sendiri. Diakui bahwa silabus yang dikembangkan oleh guru-guru belum sepenuhnya berasal dari hasil pemikiran sendiri namun sebahagian masih mencontoh silabus dari sekolah-sekolah lain dengan beberapa perbaikan-perbaikan.Kegiatan pembelajaran yang dirancang dalam silabus belum membagi ke dalam bentuk tatap muka (TM), penugasan terstruktur (PT) dan kegiatan mandiri tidak terstruktur (KMTT). Guru-guru memiliki rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang disusun berdasarkan pada prinsip-prinsip perencanaan pembelajaran baik mata pelajaran muatan nasional ataupun mata pelajaran muatan lokal. Seperti halnya dengan silabus, kegiatan penyusunan RPP juga dilakukan oleh guru-guru secara mandiri. RPP yang disusun guru sebahagian masih meng-copy paste RPP sekolah lain dengan beberapa perubahan-perubahan. Namun ada juga beberapa guru yang telah menyusun RPP berdasarkan hasil pemikiran sendiri dengan memperhatikan lingkungan sekolah atau siswa, nilai-nilai, dan norma-norma yang ada dalam masyarakat. Metode pembelajaran yang dirancang guru-guru dalam silabus dan RPP sebagian sudah menggunakan metode yang aktif, inspiratif, kreatif, menyenangkan, menantang dan memotivasi siswa. Standar Kompetensi Lulusan Perolehan nilai ujian sekolah tahun pelajaran 2015/2016 untuk masing-masing mata pelajaran memenuhi Standar kelulusan. Rata-rata nilai ujian sekolahuntuk masing-masing mata pelajaran Bahasa Indonesia 72,84, Matematika 84,15, Ilmu Pengetahuan Alam 78,26 dan Bahasa Inggris 74,23 Untuk setiap mata pelajaran dapat dikatakan bahwa siswa sudah mencapai target yang ditetapkan SKL, dilihat dari tingkat kelulusan siswa 100% berhasil dan melanjutkan tingkat sekolah berikutnya. Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan Berdasarkan peraturan pemerintah nomor 74 tahun 2008 yang mengisyaratkan bahwa guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompentensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani rohani serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Status kepegawaian pendidik dan tenaga kependidikan di SMAN 1 Pasemah Air Keruh 8 orang PNS dan 31 orang sebagai GTT, dan 6 orang PTT. Kualifikasi pendidikan S.2 2 orang S.1 36 orang, SLTA 7 orang. Standar Sarana dan Prasarana SMAN I Pasemah Air Keruh memiliki luas lahan 12.465 m2 . jumlah ruangan sebanyak 27 ruang yang terdiri dari 1 ruang kepala sekolah, 1 ruang wakil kepala sekolah, 1 ruang guru, 1 ruang TU, 1 ruang perpustakaan, 1 ruang lab fisika, 1 ruang lab kimia, 1 ruang lab biologi, 1 ruang lab komputer, 1 ruang operator sekolah dan 17 ruang kelas. Ruang kelas yang digunakan sebagai tempat proses belajar mengajar sebanyak 17 ruangan dengan luas masing – masing 8 x 9 m2 . setiap ruang kelas memiliki 1 white board dan 1 black board, satu meja dan kursi guru, masing – masing satu meja dan kursi siswa, 1 kotak sampah dan 1 buah jam dinding. Ruang guru berukuran 8x9 m2 memuat 36 pasang meja dan kursi, 1 papan tulis white board, 1 set kursi dan meja tamu, 1 kamar kecil (WC), 5 buah lemari, 1 buah TV, 1 buah meja tempat air minum, 1 buah dispenser dan 1 buah jam dinding. Ruang perpuskaan dengan luas 8x12 m2 jumlah buku teks pelajaran sudah cukup dari jumlah siswa Laboatorium yang dimiliki SMA Negeri 1 Pasemah Air Keruh ialah laboatorium fisika, kimia, biologi dan komputer dimana didalam lab komputer terdiri 20 set komputer, 1 buat proyektor , 1 buah pendingin ruangan (AC) dan 1 buah white board. Ruang operator sekolah terdapat, 1 buah komputer, 1 buah kipas angin dan 1 buah printer Ruang wakil kepala sekolah, 3 x 5 m2 terdapat 2 pasang meja dan kursi, 2 buah lemari buku, 1 buah kipas angin, 1 buah jam dinding Sarana dan prasarana lain ialah ruang tata usaha, ruang BK, kantin, Pos satpam dan Parkiran kendaraan. Standar Pengelolaan Rencana kerja sekolah (RKS), rencana kerja tahunan (RKT) ataupun rencana kerja jangka menengah (RKJM) disosialisasikan kepada warga sekolah. Demikian pula dengan rencana kegiatan dan anggaran sekolah (RKAS) disosialisasikan kepada warga sekolah. Sekolah sudah melakukan pengisian instrumen EDS sehingga RKS dan RKJM yang disusun berdasarkan rekomendasi EDS sudah mengelompokkan ke dalam delapan standar yaitu Standar Kompetensi Lulusan, Standar Isi, Standar Proses, Standar Pendidikan dan Tenaga Kependidikan, Standar Sarana dan Prasarana, Standar Pengelolaan, Standar Pembiayaan Pendidikan, Standar Penilaian Pendidikan. Kegiatan supervisi sudah dilaksanakan secara berkala dan berkelanjutan sehingga mudah untuk mengukur dan menilai kinerja untuk melakukan perbaikan-perbaikan terutama dalam peningkatan hasil belajar siswa. Standar Pembiayaan Sumber keuangan sekolah masih tergantung pada bantuan pemerintah berupa dana BOS APBN dan BOS pemerintah provinsi Sumatera Selatan. Sekolah belum mampu untuk mencari sumber keuangan lain misalnya dengan membangun kerja sama yang saling menguntungkan dengan dunia usaha dan industri. Penyusunan RKAS melibatkan secara langsung pihak komite sekolah ataupun pemangku kepentingan yang relevan, lewat rapat dewan guru, kepala sekolah, beberapa guru dan bendahara sekolah, dengan tetap mempertimbangkan usulan-usulannya warga sekolah.. Standar Penilaian Pendidikan Sebagian guru sudah menyusun perencanaan penilaian berdasarkan kompetensi inti dan kompetensi dasar. KKM yang telah ditetapkan diinformasikan oleh guru kepada siswa diawal pertemuan tatap muka dan menginformasikan KKM sebelum pelaksanaan setiap ulangan harian. Guru melaksanakan penilaian melalui pelaksanaan ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, kenaikan kelas, dan ujian sekolah dengan memperhatikan prinsip-prinsip penilaian yaitu objektif, terpadu, ekonomis, transparan, akuntabel, dan edukatif. Penilaian melalui ulangan harian dilaksanakan berdasarkan rencana yang telah dibuat oleh guru. Kondisi Sekolah MAGANG (SMA Negeri 1 Ulu Musi) SMA Negeri 1Ulu Musi berlokasi di desa Padang Tepong kecamatan Ulu Musi,sekitar 1 km dari simpang Pasemah Air Keruh yang didirikan pada tahun 2000 di atas lahan seluas 20.000 m2. Adapun Visi, Misi dan Tujuan Pendidikan di SMA Negeri 3 Ulu Musi sebagai berikut Visi Bertaqwa,berprestasi, dan berdisiplin,berprestasi Indikator : Unggul dalam Agama IMTEK dan IMTAQ Unggul dalam penerapan Ilmu Unggul dalam disiplin Unggul dalam berbudaya Misi Menamkan penghayatan terhadap agama agar menjadi sumber kearifan dalam bertindak. Melaksanakan belajar secara efektif dan efisien Menanamkan disiplin,keamanan,kebersihan,dan kerindangan sehingga siswa mengenal jati dirinya. Mengmbangkan budaya sopan santun sesuai dengan ajaran agama islam yang baik. Strategi Meningkatkan profesional Guru dan pegawai Melaksanakan supervisi secara kesinambungan Melaksanakan kegiatan ulangan bulanan,mid semester,dan belajar tambahan Meningkatkan ketrampilan berbahasa Inggris Meningkatkan imtek dan imtaq kesenian ,kemampuan saind ketrampilan komputer dan olah raga prestasi. Mengikutsertakan masyarakat setempat dalam kegiatan terentu. Mengupayakan pengadaan sarana dan prasarana pembelajaran berbasis ITC. Mengupayakan kondisi kondusif yang nyaman bagi warga sekolah dalam melaksanakan kegiatan sekolah. Tujuan Pendidikan Menciptakan dan menyelenggarakan proses pendidikan yang beroreantasi pada target pencapaian efektifitas proses pembelajaran. Penanaman budaya malu kepada seluruh siswa/warga sekolah yang didasarkan kepada ketrampilan dan profesionalisme. Menciptakan sistem kebersaaan melelui tim work sekolah yang kompak ,cerdas dan dinamis dalam rangka menghasilkan autput pendidikan yang tinggi. Pengelola tenaga kependidikan secara efektif berdasarkan analisis kebutuhan.,perencanaan ,pengembangan ,evaluasi kerja dan imbal jasayang memadai. Memenuhi kekurangan jumlah kelas agar kegiatan belajar mengajar tidak perluy menggunakan double shift ,sehingga proses kegiatan belajar mengajar dapat terlaksana dengan baik efektif dan efesien. 1. Gambaran Umum SMA Negeri 1Ulu Musi dengan Nomor Statistik Sekolah (NSS) 301.111.144.256, NPSN 106.44.256,NIS 300080, alamat Jl. Pasmah Air Keruh desa Padang Tepong Kecamatan Ulu Musi Kabupaten Empat Lawang Provinsi Sumatera Selatan, tahun pendirian 2000 luas tanah 20.000 m2, status negeri, dan terakreditasi B pada tahun 2016. Jumlah sisiwa dalam 3 (Tiga) tahun ajaran terakhir, tahun 2014-2015 kelas X : 172 siswa, kelas XI : 133 siswa, kelas XII : 122siswa.Jumlah seluruh 426 siswa. Tahun 2015 -2016 kelas X :208 siswa, kelas XI : 145 siswa, kelas XII : 119siswa. jumlah keseluruhan 470 siswa. Tahun 2016 -2017 kelas X : 157 siswa, kelas XI : 183 siswa, kelas XII : 134 siswa, jumlah keseluruhan 475siswa. Data pendidik dan tenaga kependidikan : Kurniati,S.Pd, M.Pd, tempat tanggal lahir Lubuk Puding,02-09-1968, jenis kelamin perempuan, NIP. 196809022006042004, golongan III/d, jabatan kepala sekolah, status PNS. Kasmir,S.Ag, tempat tanggal lahir Tangga Rasa,27-05-1970 jenis kelamin Laki-laki, NIP. 197005272007011009, golongan III/b, jabatan Waka kurikulum dan guru mata pelajaran Agama Islam, status PNS. Nahrowi,SE, tempat tanggal lahir Lahat, 06-10-1974, jenis kelamin laki - laki, NIP. 197410062009041002, golongan III/c, jabatan Bendahara dan guru mata pelajaran Ekonomi, status PNS. Melian,S.Ag, tempat tanggal lahir bengkulu Selatan,16-08-1969, jenis kelamin laki-laki, NIP. 196808162012121002, golongan III/a, jabatan waka kesiswaan dan guru mata pelajaran Geografi, keterangan PNS. Azwar Anas,S.Pt, tempat tanggal lahir Lahat, 18-03-1978, jenis kelamin Laki-laki,NIP.197803182012121003, jabatan guru mata pelajaran Biologi, status PNS. Arwan Aziz,S.Pd.I, tempat tanggal lahir Terusan Baru, 21-07-1983, jenis kelamin laki-laki, NIP.198307212010011019, jabatan guru Pendidikan Agama Islam, status PNS. Ririn Handayani,S.Pd, tempat tanggal lahir Curup,23-10-1980, jenis kelamin perempuan, NIP.198010232010011015, jabatan guru mata pelajranFisika, statusPNS. Nilawati,S.Pd, tempat tanggal lahir Lahat, 20-06-1974, jenis kelamin perempuan, NIP.197406202007012024, jabatan guru mata pelajaran Sejarah, statusPNS. Nasir,S.Pd, M.Pd, tempat tanggal lahir Lampung Utara, 17-10-1971, jenis kelamin Laki-laki, NIP.1971101719991004, jabatan guru mata Bahas INdonesia, statusPNS. Marhadi, tempat tanggal lahir Ulu Musi, 11-10-1990, jenis kelamin laki-laki, jabatan kaur t.u, statusPTT. Alek Zulkarnain,S.Pd, tempat tanggal lahir Lubuk Mumpo, 24-01-1989, jenis kelamin laki-laki, jabatan guru mata pelajaran PJOK, status GTT. Feni Ambrayani,S.Pd, tempat tanggal lahir Tanjung Muning, 13-12-1987, jabatan guru mata pelajaran Matematika, status GTT. Yogi Sugar Erlambang,S.Pd, tempat tanggal lahir Palembang, 08-10-1987, jabatan guru mata pelajaran Bahasa Inggris, status GTT. Alex Pisniliadi,S.Pd, tempat tanggal lahir Padang Tepong, 22-06-1989, jabatan guru mata pelajaran IPA, status GTT. Abu Salman,S.Pd, tempat tanggal lahir Padang Tepong, 24-06-1990, jabatan guru mata pelajaran IPS, status GTT. Pahaina S.Pd.I, tempat tanggal lahir Padang Tepong,11-03-1988, jenis kelamin perempuan, jabatan guru mata pelajaran PAI, status GTT. Helen Saparingga,S.Pd.I, tempat tanggal lahir Padang Tepong, 13-03-1988, jenis kelamin perempuan, jabatan guru mata pelajaran PAI, status GTT. Wirandika Wirananda,S.Pd, tempat tanggal lahir Tangerang, 15-05-1994, jenis kelamin perempuan, jabatan guru mata pelajaran IPA, status GTT. Indah Erin Tariza,S.Pd, tempat tanggal lahir Jambi, 12-08-1993, jenis kelamin perempuan, jabatan guru mata pelajaran bahasa Indonesia, status GTT. Atik Maryani, tempat tanggal lahir Cinta Kasih, 25-05-1992, jenis kelamin perempuan, jabatan pegawai TU, status PTT. Zakiah, tempat tanggal lahir Ulu Musi, 16-11-1994, jenis kelamin perempuan, jabatan pegawai Tu, status PTT.Handoko, tempat tanggal lahir Ulu Musi, 18-10-1997, jenis kelamin laki-laki, jabatan pegawai Tu, status PTT. Jumlah rombongan belajar kelas X : 5 rombel, kelasXI : 6 rombel, kelas XII :5 rombel. Data prasarana : Ruang kelas X : 5 ruangan, masing-masing ruangan ukuran 9 x 8 m2 kondisi baik, status kepemilikan milik. Ruang kelas XI : 6 ruangan, tiap ruangberukuran 9 x 8 m2 kondisi baik, status kepemilikan milik. Ruang kelas XII : 5 ruangan tiap ruang berukuran 9 x 8 m2 kondisi baik, status kepemilikan milik. Ruang kepala sekolah 1 ruangan ukuran 4 x 8 m2 kondisi baik, status kepemilikan milik. Ruang guru 1 ruangan ukuran 9 x 8 m2 kondisi baik, status kepemilikan milik. Ruang perpustakaan 1 ruangan ukuran 9 x 12 m2 kondisi baik, status kepemilikan milik. WC guru 3 ruangan ukuran 3 x 3 m2, kondisi baik status kepemilikan milik. WC siswa laki-laki 1 ruangan ukuran 2 x 2 m2, kondisi Baik, status kepemilikan milik. WC siswa perempuan 1 ruangan2 x 2 m2 kondisi rusak. Status kepegawaian pendidik dan tenaga kependidikan terdiri dari 11 orang PNS dan 26 orang sebagai GTT. Kualifikasi pendidikan S.22 orangKualifikasi pendidikan S.1 24 orang, D.32 orang dan D.2 1 orang SMA 6 orang, yang sedang menempuh S.2 1 orang. TABEL GAMBARAN UMUM SMAN 1 ULU MUSI Identitas Nama Sekolah SMA Negeri 1 Ulu Musi NSS 301.111.144.256 NPSN 106.44.256 Alamat Jl. Pasemah Air Keruh Desa Padang Tepong Kecamatan Ulu Musi Kabupaten Empat Lawang Provinsi Sumatera Selatan Tahun Pendirian 2000 Luas Tanah 20.000 m2 Status Negeri Akreditasi B Nilai Akreditasi 80 Data Siswa 3 (Tiga) Tahun Terakhir No Kelas Tahun Ajaran / Jumlah Siswa 2014 – 2015 2015 – 2016 2016 – 2017 L P JML L P JML L P JML 1 X 87 85 172 org 111 97 208 org 85 72 157 org 2 XI 60 72 132 org 68 77 145 org 96 88 184 org 3 XII 61 61 122 org 61 58 119 org 60 74 134 org Jumlah 426 org 470 org 475 org Data Jumlah Rombongan Belajar No Ruang Kelas Jumlah Rombel 1 Ruang Kelas X 5 Rombel 2 Ruang Kelas XI 6 Rombel 3 Ruang Kelas XII 5 Rombel Data Prasarana No Nama Prasarana Panjang (m) Lebar (m) Kondisi Status Kepemilikan 1 Ruang kelasX 9 8 Baik Milik 2 Ruang kelas XI 9 8 Baik Milik 3 Ruang kelas XII 9 8 Baik Milik 7 Ruang Kepala sekolah 3 8 Baik Milik 8 Ruang guru 9 8 Baik Milik 9 Ruang perpustakaan 12 8 Baik Milik 10 WC Guru 2 2 Baik Milik 11 WC Siswa Laki laki 2 2 Rusak Milik 12 WC Siswa Perempuan 2 2 Rusak Milik 2. Penataan 8 Standar Nasional Pendidikan Standar Isi SMA 1Ulu Musi pada tahun pelajaran 2016/2017 masih menerapkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).Kurikulum sekolah memuat 13 mata pelajaran muatan nasional dan satu mata pelajaran muatan lokal. Alokasi waktu mata pelajaran Pendidikan Agama, PKN, PJOK, SBK, TIK dan Mulok Masing-masing 2 Jam Pelajaran.Sedangkan mata pelajaran yang diujinasionalkan seperti Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Kimia, Fisika, Biologi masing – masing 4 jam pelajaran perminggu, Geografi, Ekonomi, Sejarah juga dialokasikan 4 jam pelajaran.Satu jam pelajaran setara 45 menit. Jumlah jam pelajaran perminggu 39 jam pelajaran per kelas, sehingga total jumlah jam pelajaran tatap muka sebanyak 39 jam pelajaran per rombel ´16 rombel = 597 jam pelajaran perminggu. Standar Proses Silabus yang dikembangkan oleh guru-guru berdasarkan Standar Isi (SI), Standar Kompetensi Lulusan (SKL), dan panduan penyusunan KTSP. Kegiatan penyusunan dan pengembangkan silabus dilakukan secara mandiri atau berkelompok oleh guru-guru di sekolah sendiri. Diakui bahwa silabus yang dikembangkan oleh guru-guru belum sepenuhnya berasal dari hasil pemikiran sendiri namun sebahagian masih mencontoh silabus dari sekolah-sekolah lain dengan beberapa perbaikan-perbaikan.Kegiatan pembelajaran yang dirancang dalam silabus belum membagi ke dalam bentuk tatap muka (TM), penugasan terstruktur (PT) dan kegiatan mandiri tidak terstruktur (KMTT). Guru-guru memiliki rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang disusun berdasarkan pada prinsip-prinsip perencanaan pembelajaran baik mata pelajaran muatan nasional ataupun mata pelajaran muatan lokal. Seperti halnya dengan silabus, kegiatan penyusunan RPP juga dilakukan oleh guru-guru secara mandiri. RPP yang disusun guru sebahagian masih meng-copy paste RPP sekolah lain dengan beberapa perubahan-perubahan. Namun ada juga beberapa guru yang telah menyusun RPP berdasarkan hasil pemikiran sendiri dengan memperhatikan lingkungan sekolah atau siswa, nilai-nilai, dan norma-norma yang ada dalam masyarakat. Metode pembelajaran yang dirancang guru-guru dalam silabus dan RPP sebagian sudah menggunakan metode yang aktif, inspiratif, kreatif, menyenangkan, menantang dan memotivasi siswa. Standar Kompetensi Lulusan Perolehan nilai ujian sekolah/madrasah (US/M) tahun pelajaran 2014/2015 untuk masing-masing mata pelajaran memenuhi Standar kelulusan. dapat dikatakan bahwa siswa sudah mencapai target yang ditetapkan SKL, dilihat dari tingkat kelulusan siswa 100% berhasil dan melanjutkan tingkat sekolah berikutnya. Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan Berdasarkan peraturan pemerintah nomor 74 tahun 2008 yang mengisyaratkan bahwa guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompentensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani rohani serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Status kepegawaian pendidik dan tenaga kependidikan di SMA Negeri Ulu Musi terdiri dari 4 orang PNS dan 13 orang sebagai GTT. Kualifikasi pendidikan S.1 16 orang, D.3 1 orang dan D.1 1 orang yang sekarang sedang menempuh pendidikan S.1. Standar Sarana dan Prasarana SMANegeri 1 Ulu Musi memiliki luas lahan 20.000 m2 dengan jumlah ruang kelas yang digunakan sebagai tempat proses belajar mengajar sebanyak 15 ruang kelas dengan ukuran masing-masing 9 x 8 m2 per ruang kelas. Setiap ruang kelas masing-masing memiliki satu white board sebagai papan tulis, satu meja dan kursi guru, , masing-masing satu kursi untuk setiap siswa dan satu bangku untuk dua siswa, memiliki prasaran lainnya seperti sapu, pengepel, tempat sampah, jam dinding dan sebagainya untuk kelengkapan ruang kelas. Ruang guru berukuran 9 × 8 m2 memuat 29 pasang meja dan kursi guru, 1 set kursi dan meja tamu, 1 Papan White Board, 1 buah jam dinding.Ruang perpustakaan terdiri dari satu unit bangunan dengan ukuran (12x8) m2, dalam keadaan baik. Ruang kepala sekolah berukuran (3 × 8) m2 terdapat 1 pasang meja dan kursi kepala sekolah,lemari sanpras,dispenser air,1 set kursi tamu. Standar Pengelolaan Rencana kerja sekolah (RKS), rencana kerja tahunan (RKT) ataupun rencana kerja jangka menengah (RKJM) disosialisasikan kepada warga sekolah. Demikian pula dengan rencana kegiatan dan anggaran sekolah (RKAS) disosialisasikan kepada warga sekolah. Sekolah sudah melakukan pengisian instrumen EDS sehingga RKS dan RKJM yang disusun berdasarkan rekomendasi EDS sudah mengelompokkan ke dalam delapan standar yaitu Standar Kompetensi Lulusan, Standar Isi, Standar Proses, Standar Pendidikan dan Tenaga Kependidikan, Standar Sarana dan Prasarana, Standar Pengelolaan, Standar Pembiayaan Pendidikan, Standar Penilaian Pendidikan. Kegiatan supervisi sudah dilaksanakan secara berkala dan berkelanjutan sehingga mudah untuk mengukur dan menilai kinerja untuk melakukan perbaikan-perbaikan terutama dalam peningkatan hasil belajar siswa. Standar Pembiayaan Sumber keuangan sekolah masih tergantung pada bantuan pemerintah berupa dana BOS APBN dan BOS pemerintah provinsi Sumatera Selatan. Sekolah belum mampu untuk mencari sumber keuangan lain misalnya dengan membangun kerja sama yang saling menguntungkan dengan dunia usaha dan industri. Penyusunan RKAS melibatkan secara langsung pihak komite sekolah ataupun pemangku kepentingan yang relevan, lewat rapat dewan guru, kepala sekolah, beberapa guru dan bendahara sekolah, dengan tetap mempertimbangkan usulan-usulannya warga sekolah. Standar Penilaian Pendidikan Sebagian guru sudah menyusun perencanaan penilaian berdasarkan kompetensi inti dan kompetensi dasar. KKM yang telah ditetapkan diinformasikan oleh guru kepada siswa diawal pertemuan tatap muka dan menginformasikan KKM sebelum pelaksanaan setiap ulangan harian. Guru melaksanakan penilaian melalui pelaksanaan ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, kenaikan kelas, dan ujian sekolah dengan memperhatikan prinsip-prinsip penilaian yaitu objektif, terpadu, ekonomis, transparan, akuntabel, dan edukatif. Penilaian melalui ulangan harian dilaksanakan berdasarkan rencana yang telah dibuat oleh guru. BAB III PELAKSANAAN RENCANA TINDAK LANJUT (RTL) A. Pelaksanaan Rencana Tindak Kepemimpinan (RTK) Siklus 1 Persiapan Diawali dengan berdiskusi dengan kepala sekolah mengenai pentingnya RPP oleh semua guru sebagai pedoman dalam kegiatan proses belajar mengajar. Salah satunya Meningkatkan Kemampuan Guru dalam Menyusun RPP yang sesuai dengan standar nasional. Hasil diskusi dengan guru memutuskan untuk diselenggarakannya sosialisasi program On the Job Learning (OJL) bagi calon kepala sekolah pada hari Selasa tanggal 4 Maret 2017 pukul 09.30 pada jam istirahat. Melalui sosialisasi program On the Job Learning (OJL) bagi calon kepala sekolah tahun 2017 dihadiri oleh seluruh guru melalui sosialisasi diharapkan para guru akan mendukung dan akan memberikan bantuan kepada calon kepala sekolah untuk melakukan On the Job Learning (OJL). Pelaksanaan Rencana tindak kepemimpinan yaitu “Meningkatkan Kemampuan Guru Dalam Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Sesuai Standar Nasional melalui Workshop di SMA Negeri 1 Pasemah Air Keruh” di sekolah dilaksanakan yang dihadiri oleh 1 orang sebagai sumber dalam kegiatan tersebut diantaranya kepala sekolah, guru, yang telah mengikuti cara-cara penyusunan RPP. Pelaksanaan diawali dengan penyampaian materi secara umum, mengulas sekilas tentang kurikulum KTSP menyampaikan pentingnya kepemilikan perangkat pembelajaran mulai dari program, program tahunan, program semester,Serta pentingnya menentukan KKM karena tolak ukur pencapaian keberhasilan program pengajaran dan RPP sesuai dengan kurikulum KTSP kemudian dilanjutkan dengan menyusun perangkat pembelajaran oleh guru karena waktu terbatas dilanjutkan di rumah masing-masing. Monitoring dan Evaluasi Monitoring dilaksanakan untuk mengukur tingkat keberhasilan dari kegiatan menentukan KKM diawali dengan kepemilikan perangkat pembelajaran dalam hal ini RPP KTSP. Kegiatan monitoring dan evaluasi melibatkan kepala sekolah dan guru senior instrumen monitoring terlampir. Instrumen monitoring dan evaluasi diberikan setelah kegiatan berlangsung. Kepada kepala sekolah untuk mengisi instrumen siklus 1 berkaitan dengan calon kepala sekolah dalam menyiapkan kegiatan dengan kemampuan guru sebagai peserta dalam kegiatan Penentuan dan Penghitungan KKM dalam Perangkat Pembelajaran. Refleksi Berdasarkan hasil perhitungan dan instrumen monitoring dan evaluasi yang dilakukan calon kepala sekolah pada siklus 1 sebagai berikut : 29/38 x 100% = 76,32% kategori B (Baik) dengan menggunakan kreteria sebagai berikut : ANGKA HURUP KETERANGAN 86 – 100 A Sangat Baik 71 – 85 B Baik 56 – 70 C Cukup < 55 D Kurang Hal ini calon kepala sekolah mempersiapkan perencanaan kegiatan pembuatan RPP dan dapat menyampaikan materi dengan baik. Sedangkan hasil monitoring dan evaluasi yang dilakukan calon kepala sekolah terhadap guru-guru dalam menyusun RPP dengan mengisi instrumen monev dan menilai RPP yang telah dibuat guru tersebut. berdasarkan hasil instrumen monev perhitungan sebagi berikut. No Nama Guru No Instrumen Jml Skor (%) 1 2 3 4 5 6 7 8 1 ASMAWI,S.Pd 4 3 3 4 4 2 3 3 26 81,25 2 HENDRI,S.Pd 4 2 3 3 4 3 2 3 24 75,00 3 ANUGRAH UTAMI ,S.Pd 4 2 2 3 3 2 2 2 20 62,50 4 SUNITA,S.Pd 3 2 2 2 3 2 3 2 19 59,38 5 MARIANSI ,S.Pd 3 2 2 2 2 2 2 3 18 56,25 Kriteria nilai yang digunakan adalah : ANGKA HURUP KETERANGAN 86 – 100 A Sangat Baik 71 – 85 B Baik 56 – 70 C Cukup < 55 D Kurang Berdasarkan hasil penilaian terhadap RPP yang telah dibuat guru, dapat disimpulkan bahwa dari 5 orang guru terdapat 2 orang guru memperoleh nilai diatas 71 dengan ketegori (B), 3 orang guru memperoleh nilai di bawah 71 dengan kategori (c). Sebagai tindak lanjut maka ketiga orang guru tersebut diberikan pendampingan oleh calon kepala sekolah dalam menyusun RPP untuk mempersiapkan perbaikan di siklus 2. Siklus 2 Persiapan Merenungi dan mengamati setiap tahapan yang telah dilaksanakan dalam Penghitungan dan Penentuan KKM dalam pembuatan RPP siklus 1. Bersama guru mudah untuk menyempurnakan, mendiskusikan dengan guru mengenai hal-hal yang harus ditingkatkan dalam kegiatan menigkatkan guru dalam menentukan KKM dalam pembuatan RPP di sekolah. Hasil diskusi dengan rekan guru, kepada guru senior dan kepada kepala sekolah diminta pendampingan kembali menentukan jadwal. Pelaksanaan Melakukan kegiatan kepada guru mengenai hal-hal yang harus diperbaiki kegiatan pendampingan dilakukan oleh calon kepala sekolah dibantu oleh pengawas. Pendampingan dilaksanakan tanggal 8 Maret 2017. Calon kepala sekolah melakukan observasi kegiatan pendampingan berlangsung. Monitoring Monitoring dilakukan melalui observasi kegiatan yang melibatkan guru senior dan kepala sekolah. Instrumen monitoring dilakukan setelah kegiatan berlangsung untuk mengisi siklus-siklus calon kepala sekolah mengisi instrumen yang berkaitan dengan penghitungan KKM dalam penyusunan RPP di siklus 1 Refleksi Berdasarkan hasil instrumen monitoring yang dilakukan terhadap calon kepala sekolah oleh kepala sekolah pada siklus 2. Hal ini merupakan bahwa calon kepala sekolah dapat membimbing melalui 3 (Empat) orang guru. Berdasarkan hasil penilai instrumen diperoleh sebagi berikut : 34/38X 100% = 89,47 kategori A (Sangat Baik) Hal ini menunjukan bahwa calon kepala sekolah dapat membimbing melalui pendampingan terhadap 1 (satu) orang guru yang masih memiliki kekurangan dalam membuat RPP. Sedangkan hasil monitoring dan evaluasi yang dilakukan calon kepala sekolah terhadap guru-guru dalam menyusun RPP mengisi instrumen monev dan menilai kembali instrumen monev tersebut diperoleh perhitungan sebagai berikut: No Nama Guru No Instrumen Jml Skor (%) 1 2 3 4 5 6 7 8 1 ANUGRAH UTAMI ,S.Pd 4 3 3 4 4 2 3 3 26 81,25 2 SUNITA,S.Pd 4 3 3 3 4 2 3 4 26 81,25 3 MARIANSI, S.Pd 4 2 3 3 4 3 2 3 24 75,00 Kriteria nilai yang digunakan adalah : ANGKA HURUF KETERANGAN 86 – 100 A Sangat Baik 71 – 85 B Baik 56 – 70 C Cukup < 55 D Kurang Berdasarkan hasil penilaian yang dilakukan setelah mengisi dan menghitung instrumen monitoring dan evaluasi pada guru dalam mereviu RPP pada siklus 2 melalui kegiatan pendampingan dapat disimpulkan bahwa ternyata memperoleh hasil yang sangat memuaskan, artinya ketiga orang guru telah dapat memperbaiki yang kurang dalam membuat RPP. B. Supervisi Guru Junior Salah satu tugas kepala sekolah adalah melaksanakan supervisi akademik membantu guru dalam mengembangkan kemampuan pengelola pembelajaran. Spervisi akademik merupakan kegiatan terencana, terpola dalam terprogram, merubah prilaku guru, menigaktakan kualitas pendidikan.Supervisi akademik dilakukan calon kepala sekolah antara lain : Membimbing guru memilih menggunakan strategi/metoda/teknik dapat mengembangkan berbagai potensi. Membimbing guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran bimbingan di kelas. Membimbing guru dalam mengelola, merawat, mengembangkan dan menggunakan pasilitas pembelajaran. Memotifasi guru untuk melaksanakan pembelajaran dengan terperinci dan terarah. Sasaran utama supervisi akademik adalah kemapuan guru dalam merencanakan kegiatan pembelajaran. Menciptakan lingkungan pembelajaran yang menyenangkan, memanfaatkan sumber pembelajaran yang ada. Tujuan supervisi guru junior bagi calon kepala sekolah : Mengembangkan kompetensi akademik Melatih kemampuan melaksanakan supervisi. Melatih kemampuan mengidentifikasi permasalah guru junior, dalam rangka meningkatkan mutu proses hasil pembelajaran. Membantu guru dalam mengambangkan kompetensi guru meningkatkan kualitas pembelajaran. Membantu guru junior mengembangkan kurikulum silabus dan RPP. Hasil yang diharapkan dari supervisi guru juior: Mampu mengembangkan kompetensi perencanaan supervisi. Melaksanakan supervisi akademik. Mampu melaksanakan tindak lanjut dalam rangka menigkatkan hasil pembelajaran. Siklus 1 Perencanaan Sebelum melaksanakan kegiatan observasi guru junior, calon kepala sekolah melakukan hal-hal berikut : Meningkatkan pengetahuan supervisi akademik; dengan membaca modul tentang sipervisi akademik. Melakukan wawancara dengan kepala sekolah tentang supervisi akademik. Menyusun program, membuat jadwal, membuat istrumen perencanaan kegiatan pembelajaran, instrumen observasi kelas, daftar pernyataan setelah observasi, dan instrumen tindak lanjut supervisi akademik. Penulis memutuskan guru junior yang akan disupervisi adalah : Yori Yupiter Juliansyah, S.Pd mengajar di kelas XI. Pelaksanaan Kegiatan supervisi akademik meliputi tiga tahapan kegiatan yaitu : 1). Pra observasi dalam tahapan ini guru diberitahu dan dinyatakan kesiapannya untuk disupervisi oleh kepala sekolah atau guru senior, setelah ada kesepakatan jadwal, guru diminta untuk mengisi format pra observasi yang harus diisi, dan memberikan RPP yang akan digunakan pada saat disupervisi. Supervisor dalam hal ini kepala sekolah atau guru senior menelaah RPP yang telah diberikan oleh guru yang akan disupervisi. 2). Observasi, sesuai dengan jadwal yang telah disepakati kegiatan supervisipun dilakukan. Untuk kegiatan pelaporan On the Job Learning (OJL) calon kepala sekolah hanya memaparkan observasi terhadap 1 (satu) orang guru junior saja yaitu : Yori Yupiter Juliansyah, S.Pd guru kelas XI IPS I disupervisi pada hari senin 6 Maret 2017 jam Kesatu dan kedua di kelas XI IPS I . Pendahuluan pembelajaran diawali dengan mengucapkan salam dan berdoa sebelum pembelajaran dimulai, lalu guru mengabsen kehadiran siswa dan menyampaikan tujuan pembelajaran.Kegiatan inti menyampaikan informasi yang akan dipelajari. Kemudian peserta didik diminta untuk mengolah dan menganalisis hasil gambar pengamatan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan pada LKS setelah selesai mengisi LKS. Mempersentasikan hasil percobaan dan pengamatan. Kegiatan penutup diakhiri dengan menyimpulakan materi yang telah disampaikan. 3). Pasca observasi, setelah observasi dilakukan kegiatan refleksi secara singkat dengan guru junior dengan ditanya bagaimana perasaan/kesan guru junior tersebut setelah melakukan proses pembelajaran yang diamati oleh calon kepala sekolah, lalu calon kepala sekolah memberikan pujian terhadap hal-hal yang sudah baik yang dilakukan oleh guru junior selama proses pembelajaran, setelah itu guru junior diberi instrumen format 3 (pasca observasi Gambar 3. 1 Supervisi guru Yunior siklus pertama Tindak Lanjut dan Hasil Tindak lanjut dan hasil, setelah mengisi instrumen pasca observasi calon kepala sekolah memperlihatkan hasil penilaian format 1 tentang instrumen Perencanaan Kegiata Pembelajaran, untuk Yori Yupiter Juliansyah, S.Pd Hasil menunjukan guru junior memperoleh nilai 35. Dimasukan dalam perhitungan maka perolehannya adalah : 35/44 X 100 % = 79,54% = B (Baik). Dalam format 2 instrumen observasi kelas, Yori Yupiter Juliansyah, S.Pd memperoleh nilai 57, dimasukan dalam menghitung maka memperolehnya adalah: 57/68 x 100% = 83,82 % = B (Baik) Untuk observasi kelas calon kepala sekolah menyarankan untuk mendorong peserta didik untuk memanfaatkan TIK, diakhir pembelajaran guru junior tidak lupa menyampaikan pemberian tugas pada pertemuan berikutnya. Setelah mengisi format 3 calon kepala sekolah bersama guru junior mendiskusikan hal-hal yang perlu ditingkatkan untuk perbaikan dalam supervisi siklus 2 nanti sebagai tindak lanjut. Kesimpulan hasil observasi guru junior siklus 1 adalah sebagai berikut : No Nama Guru Junior Format 1 (perencanaan Pembelajaran) Format 2 (Pelaksanaan Pembelajaran) Angka Huruf Angka Huruf 1 Yori Yupiter Juliansyah, S.Pd 79,54 B 83,82 B Siklus 2 Perencanaan Mendiskusikan jadwal untuk supervisi berikutnya, kapan kesediaan dari guru junior tersebut, hasil berdiskusi dengan Yori Yupiter Juliansyah, S.Pd menyepakati untuk melakukan sepervisi berikutnya di siklus 2 pada hari Kamis tanggal 8 Maret 2017 Pelaksanaan 1). Pra observasi, sebelumnya guru junior diberi instrumen pra observasi untuk diisi, baru setelah itu dilakukan observasi untuk guru junior. 2). Observasi, dilaksanakan sebagai berikut : Yori Yupiter Juliansyah, S.Pd pada saat observasi proses pembelajaran guru junior terlihat lebih baik dalam mempresiapkan pembelajaran, baik dari segi penyampaian materi. Pada kegiatan penutup guru junior juga menyampaikan materi dan memberikan tugas untuk pertemuan berikutnya. 3). Pasca Observasi setelah observasi, seperti halnya pada siklus 1 guru junior diberi pertanyaan bagaimana perasaan/kesan setelah melakukan proses pembelajaran tadi yang diamati oleh calon kepala sekolah lalu calon kepala sekolah memberikan pujian terhadap hal-hal yang sudah baik yang dilakukan guru junior selama proses pembelajaran, setelah itu guru junior diberi instrumen format 3 (pasca observasi), setelah mengisi instrumen format 3. guru junior diperlihatkan hasil penilaian format 1 dan format 2. Tindak Lanjut dan Hasil Hasil penilaian untuk Yori Yupiter Juliansyah, S.Pd siklus 2 untuk format 1 Instrumen Perencanaan Kegiatan Pembelajaran diperoleh nilai skor 40, dimasukan dalam perhitungan maka diperoleh : 40/44 x 100% = 90,90 % = A (Baik Sekali) Dari pengamatan pada siklus 1 dan siklus 2, untuk guru junior a.n Yori Yupiter Juliansyah, S.Pd pada peningkatan untuk perencanaan kegiatan pembelajaran, ini diperlihatkan dengan adanya peningkatan perolehan nilai skor (79,54%) menjadi (90,90%) dari klasifikasi B (Baik) menjadi klasifikasi A (Baik sekali), dan untuk kegiatan observasi kelas diperoleh nilai skor 60, dimasukan dalam perhitungan diperoleh : 61/68 x 100% = 89,70 % = A (Baik Sekali) Dari pengamatan siklus 1 dan siklus 2, untuk guru junior a.n Yori Yupiter Juliansyah, S.Pd pada observasi kelas ada peningkatan yang signifikan, yaitu dari 83,82% menjadi 89,70% dari klasifikasi B (Baik) menjadi klasifikasi A (Baik Sekali) Kesimpulan hasil observasi guru junior siklus 2 adalah sebagai berikut : No Nama Guru Junior Format 1(pra observasi) Format 2 (observasi) Format 3(pasca Obsevrsi) Format 4 (Tindak Lanjut) Angka Hurup Angka Hurup 1 Yori Yupiter Juliansyah, S.Pd 83,82 B 89,70 A Dari hasil wawancara dengan keduanya terlihat ada kepuasan, walaupun belum sempurna, bahkan setelah kegiatan ini guru junior lebih antusias agar program supervisi ini berkesinambungan, dengan supervisi akademik guru junior merasakan adanya manfaat yang mereka rasakan ialah Peningkatan dalam penyusunan RPP Peningkatan pelaksanaan proses pembelajaran. Sehingga dapat menigkatan kompetensi mereka. Gambar 3. 1 Supervisi guru Yunior siklus Kedua C. Penyusunan Perangkat Pembelajaran Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Penyusunan perangkat pembelajaran merupakan hal penting yang harus dilakukan oleh guru sebelum pelaksanaan proses pembelajaran. Perangkat pembelajaran meliputi : 1). Analisa keterkaitan Standar Kompotensi dengan Kompetensi Dasar, serta Indikator Pencapaian Kompetensi, 2) Silabus, 3) program tahunan, dan 5) RPP. Calon kepala sekolah juga adalah seorang guru karenanya dalam menjalankan kewajibannya sebagai seorang guru, calon kepala sekolah juga dituntut untuk menyusun RPP sesuai dengan mata pelajaran yang diampunya. Bahkan karena calon kepala sekolah adalah calon pemimpin yang sedang dilatih, ia harus lebih memahami dan memberikan contoh kepada rekan guru lainnya dalam menyusun perangkat pembelajaran. Tahap awal dalam pembelajaran yaitu menyusun perencanaan pembelajaran yang diwujudkan yaitu pembuatan perencanaan pembelajaran yang diwujudkan dengan kegiatan pembuatan rencana pembelajaran (RPP). Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah rencana kegiatan pembelajaran tatap muka untuk satu pertemuan atau lebih. RPP dikembangkan dari silabus untuk mengarahkan kegiatan pembelajaran peserta didik dalam upaya pencapaian Kompetensi Dasar (KD). Setiap pendidik pada satuan pendidikan berkewajiban menyusun RPP secara lengkap dan sistematis agar pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, efisien, memotivasi peserta didik untuk berpartisifasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreatifitas dan kemadirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta fsikologis peserta didik. RPP disusun berdasarkan Kompetensi Dasar (KD) atau sub topik yang dilaksanakan dalam satu kali pertemuan atau lebih. Pengembangan RPP dapat dilakukan oleh guru secara mandiri dan/atau kelompok di sekolah/madrasah dikoordinasi, dipasilitasi, dan disupervisi oleh kepala sekolah/madrasah atau guru senior yang ditunjukan oleh kepala sekolah. RPP mencakup : 1). Data sekolah, mata pelajaran, dan kelas/semester, Alokasi waktu 2). Standar Kompetensi (SK) 3). Kompetensi Dasar (KD) 4). Indikator 5). Tujuan Pembelajaran 6). Materi Ajar 7). Metoda Pembelajaran 8). Langkah-langkah Pembelajaran. 9). Alat dan Sumber Belajar. 10). Penilaian. Dalam laporan On the Job Learning (OJL) ini calon kepala sekolah juga menyusun RPP sesuai dengan mata pelajaran yang diampu. Sebagai langkah awal dalam menyusun RPP adalah penulisan data sekolah, mata pelajaran, dan kelas/semester, alokasi waktu. Dan sesuai dengan program semester yang telah dibuat sebelumnya, bertepatan dengan materi ajar “ Fungsi Komposisi dan Fungsi Invers ” alokasi waktu 2 x 40 menit ( 2 jam pelajaran ) Penentuan SK dan KD diambil dari silabus untuk penentuan indikator disesuaikan dengan SK, KD dan cakupan materi yang akan disampaikan. Alat dan sumber belajar juga disesuaikan dengan kondisi dilapangan, dimana di sekolah kami berapa guru telah memanfaatkan TIK dalam penyampaian proses pembelajaran. Untuk langkah-lankah pembelajaran diawali dengan pendahuluan (memberi salam, mengecek kehadiran peserta didik, menyampaikan tujuan pembelajaran) pendahuluan diperkirakan 10 menit. Dilanjutkan dengan kegiatan inti, berkaitan dengan kegiatan inti. Peserta didik mengumpulkan informasi untuk menjawab salah satu pertanyaan yang telah dirumuskan dengan membaca bahan ajar, juga dari buku sumber lain yang relevan dengan materi yang disampaikan, setelah mendapat jawaban dari berbagai sumber, kemudian peserta didik diminta untuk merumuskan secara tertulis, selam peserta didik melakukan kegatan ini guru dapat melakukan penilaian sikap, peserta didik bersama guru membuat kesimpulan atas jawaban dari pertanyaan (kegiatan ini berlangsung kurang lebih selama 50 menit). Dilanjutkan dengan kegiatan penutup dengan memberikan kesempatan kepada peserta didik bila ada hal yang belum dipahami guru memberikan penjelasan atas pertanyaan yang disampiakan peserta didik, peserta didik diberi pertanyaan lisan untuk mengetahui sejauh mana tujuan pembelajaran dapat diserap peserta didik. Bahan Ajar Bahanajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru dalam melaksanakan proses pembelajaran. Bahan yang dimaksud berupa tertulis maupun tidak tertulis. Jenis-jenis bahan ajar dapat dibedakan atas beberapa kriteria pengelompokan. Menurut Koesnandar (2008), jenis bahan ajar berdasarkan subjeknya terdiri dari dua jenis, yaitu : a) Bahan ajar yang sengaja dirancang untuk belajar seperti buku, LKS. b) Bahan ajar yang dirancang dapat dimanfaatkan untuk belajar menyatakan bahwa jika ditinjau dari fungsinya maka bahan ajar yang dirancang terdiri atas 3 kelompok, yaitu : bahan ajar persentasi, bahan referensi, dan bahan belajar mandiri. Pengembangan bahan ajar harus didasarkan pada analisis kebutuhan siswa terdapat beberapa alasan mengapa perlu pengembangan bahan ajar, yaitu : Ketersediaan bahan sesuai tuntutan kurikulum, artinya bahan ajar yang dikembangkan harus sesuai dengan kurikulum. Krakteristik sasaran, artinya bahan ajar yang dikembangkan dapat disesuiakan dengan krakteristik siswa sebagai sasaran. Pengembangan bahan ajar harus dapat menjawab atau memecahkan masalah atau kesulitan dalam belajar. Berkaitan dengan salah satu tugas On the Job Learning (OJL) yaitu menyusun bahan ajar, maka calon kepala sekolah juga mencoba menyusun bahan ajar. Seperti yang diuraikan di atas tentang pengertian bahan ajar dan dasar pengembangan bahan ajar, diantaranya adalah ketersediaan bahan sesuai tuntutan kurikulum, artinya bahan ajar yang dikembangkan harus sesuai dengan kurikulum, karakteristik sasaran, artinya bahan ajar yang dikembangkan dapat disesuiakan dengan karakteristik siswa sebagai sasaran. Maka pengembangan bahan ajar yang dilakukan guru akan sangat bermanfaat. Instrumen Penilaian Penilaian memang peranan yang penting dalam pembelajaran. Penilaian berfungsi untuk mengukur tingkat ketercapaian tujuan pembelajaran. Kurikulum KTSP memberlakukan sistem autentik dalam penilaiannya, artinya penilaian pembelajaran yang meliputi sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Dalam RPP instrumen penilaian ada dibagian paling akhir, untuk keperluan On the Job Learning (OJL) calon kepala sekolah juga melakukan penyusunan instrumen penilaian. D. Pengkajian Aspek Manajerial Dalam mengkaji 9 aspek manajerial, sebagai langkah persiapan calon kepala sekolah menyiapkan beberapa dokumen, 1) Bahan ajar yang calon kepala sekolah memperoleh berupa modul suatu kegiatan In-Service 1. 2) Untuk mencari kondisi ideal digunakan atau berpedoman pada Permendiknas/Permendikbud sesuai dengan aspek kajian manajerial. 3) Kemudian calon kepala sekolah menyusun instrumen kajian 9 aspek manajerial yang akan dijadikan panduan mencari informasi dari pemegang jabatan di sekolah, dan 4) Jika informasi dirasa masih kurang calon kepala sekolah melakukan wawancara dengan para pemegang jabatan tersebut. Rencana Kerja Sekolah Setelah mempelajari bahan pembelajaran penyusunan rencana kerja sekolah (RKS) kemudian mengkaji RKS dan RKJM SMA Negeri 1 Pasemah Air Keruh dan SMA Negeri 1 Ulu Musi penulis mengerti dan memahami beberapa cara penyusunan RKS dan RKJM diantaranya model RKS/RKJM yang disusun dikembangkan berdasarkan rekomendasi EDS mengelompokkan kegiatan-kegiatan sekolah ke dalam 8 standar : 1) standar isi, 2) Standar proses, 3) standar kompetensi lulusan, 4) PTK, 5) sarana dan prasarana, 6) pengelolaan, 7) pembiayaan, dan 8) penilaian. Pengelompokan ini sejalan dengan ketentuan permendiknas nomor 19 tahun 2007 tentang standar pengelolaan pendidikan yang mengamanatkan penyusunan RKS harus memuat kejelasan mengenai: 1) kesiswaan, 2) kurikulum dan kegiatan pembelajaran, 3) PTK serta pengembangannya, 4) sarana dan prasarana, 5) keuangan dan pembiayaan, 6) budaya dan lingkungan sekolah, 7) peran serta masyarakat dan kemitraan, dan 8) rencana kerja lain yang mengarah kepada peningkatan dan pengembangan mutu. Pemahaman penulis tentang penyusunan RKS/RKJM sekolah belum utuh dan sempurna karena belum pernah menyusun RKS/RKJM sekolah secara lengkap. Untuk memaksimalkan penguasaan kompetensi penulis tentang penyusunan RKS/RKJM, penulis berharap agar dalam penyusunan RKS/RKJM sekolah pada tahun berikutnya dapat dilibatkan secara langsung guna mempraktekkan ilmu yang telah dimiliki. Pengelolaan Keuangan Sekolah Di SMA Negeri 1 Pasemah Air Keruh , dapat disimpulkan bahwa sumber keuangan sekolah berasal dari pemerintah berupa BOS pusat, BOS provinsi. Namun belakangan ini ada peraturan daerah yang melarang sekolah melakukan pungutan pada peserta didik sehingga menyebabkan sumber keuangan sekolah terbatas hanya mengandalkan dari dana BOS. Semementara dana BOS peruntukannya sudah ditentukan pengalokasiannya, tidak bisa digunakan seperti mendistribusikan dana yang bersumber dari masyarakat sehingga solusi menghadapi peraturan daerah tersebut adalah Sekolah melakukan pengolahan keuangan secara epektif dan efisien. Dengan adanya peraturan daerah tersebut tidak menyurutkan sekolah dalam mengelola keuangan di sekolah dengan melibatkan dana dari orang tua siswa, karena dana tersebut diperoleh berdasarkan hasil musyawarah antara orang tua siswa dengan komite sekolah. Kegiatan perencanaan anggaran pembiayaan sekolah sudah sesuai dengan aturan dan petunjuk penggunaan yaitu: 1) Disusun setiap awal tahun pelajaran, 2) Melakukan analisis kebutuhan, 3) Melakukan penyusunan program strategis, 4) Dituangkan dalam RKS, hanya ada satu kesenjangan yaitu dalam menyusun perencanaan anggaran pembiayaan sekolah belum melibatkan stakeholder sekolah, solusinya adalah sekolah harus membentuk tim pengembang sekolah yang akan dilibatkan dalam menyusun perencanaan anggaran pembiayaan sekolah. Pengelolaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Setelah mempelajari bahan pembelajaran pengelolaan pendidik dan tenaga kependidikan kemudian mengkaji pengelolaan pendidik dan tenaga kependidikan sekolah tempat magang, penulis mengetahui keadaan guru dan pegawai, kualifikasi pendidikan, serta memahami pengaturan pembagian tugasnya masing-masing. Berdasarkan permendiknas nomor 39 tahun 2009 tentang pemenuhan beban kerja guru dan pengawas sekolah yang mewajibkan guru mengajar 24 jam tatap muka kualifikasi pendidikan guru memperlihatkan bahwa guru-guru sudah memenuhi standar kualifikasi pendidikan. Untuk mengembangkan kompetensi guru-guru, kepala sekolah mengarahkan guru untuk terlibat aktif dalam kegiatan KKG. Penulis juga memahami kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan setelah mempelajari permendiknas terkait. Kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan sekolah magang sebaiknya dapat diidentifikasi dan petakan oleh kepala sekolah untuk menjadi pertimbangan dalam pembagian tugas dan pembinaannya secara berkelanjutan. Untuk itu sebagai calon kepala sekolah, penulis berharap ada penilaian atau uji kompetensi bagi guru-guru untuk mengetahui tingkat kompetensinya. Pengelolaan Ketatausahaan Sekolah (TAS) Setelah mempelajari bahan pembelajaran pembinaan tenaga administrasi sekolah, permendiknas nomor 24 tahun 2008 tentang tenaga administrasi sekolah yang dimiliki dimensi kompetensi, yaitu: (1) kompetensi kepribadian, (2) kompetensi sosial, (3) kompetensi teknis administrasi sekolah, dan (4) kompetensi manajerial ketatausahaan sekolah. Kemudian mengkaji pembinaan TAS tempat magang, penulis mendapat pengetahuan tentang kompetensi TAS yang harus dibina oleh kepala sekolah. Penulis juga memperoleh pengetahuan tentang model-model pembinaan TAS. Pengelolaan Sarana dan Prasarana Sekolah Setelah mempelajari bahan pembelajaran pengelolaan sarana dan prasarana sekolah kemudian mengkaji pengelolaan sarana dan prasarana sekolah tempat magang, penulis mengetahui sumber daya sarana dan prasarana yang dimiliki sekolah magang. Penulis juga mendapat pemahaman tentang perencanaan pengadaan, pemeliharaan, inventarisasi dan penghapusan sarana prasarana sekolah. Standar sarana dan prasarana sekolah menurut permendiknas nomor 24 tahun 2007 harus dijadikan sebagai acuan dalam perencanaan pengadaan sarana dan prasarana sekolah. Pengelolaan Kurikulum Tahap awal yang dilakukan adalah menganalisa matriks kajian Pengelolaan Kurikulum. Dari analisa tersebut dapat diketahui informasi-informasi apa saja yang diperlukan dan pihak mana yang akan ditemui untuk berkoordinasi. Untuk kajian ini, pihak yang akan dihubungi adalah wakil kepala sekolah bidang kurikulum. Dokumen-dokumen yang diperlukan adalah Dokumen I, Dokumen II, dan beberapa perangkat pembelajaran guru mata pelajaran. Dokumen yang diperlukan pada pengkajian ini adalah: Dokumen I Dokumen II Beberapa perangkat pembelajaran guru mata pelajaran Tahapan pengkajian dilakukan dengan wawancara langsung dengan wakil kepala sekolah bidang kurikulum dan menganalisa dokumen I, dokumen II, dan beberapa perangkat pembelajaran guru mata pelajaran. Setelah mempelajari bahan pembelajaran pengelolaan kurikulum kemudian mengkaji pengelolaan kurikulum sekolah tempat magang, penulis lebih mengerti tentang pengelolaan kurikulum sekolah, proses penyusunan kurikulum, bentuk-bentuk RPP yang memuat nilai-nilai karakter bangsa sesuai dengan KI dan KD yang dikembangkan. RPP yang dikembangkan oleh guru-guru berdasarkan Standar Isi (SI), Standar Kompetensi Lulusan (SKL), dan panduan penyusunan Kurikulum. Kegiatan penyusunan dan pengembangkan RPP dilakukan secara mandiri ataupun berkompok dalam pertemuan Kelompok Kerja Guru ( KKG ) sekolah. Untuk memaksimalkan kompetensi pengelolaan kurikulum sekolah, termasuk penyusunan RPP yang memuat nilai-nilai karakter, penulis akan lebih banyak belajar dan berusaha selalu terlibat secara langsung dalam penyusunan dan pengembangan kurikulum sekolah. Pengelolaan Peserta Didik Setelah mempelajari bahan pembelajaran pengelolaan peserta didik kemudian mengkaji pengelolaan peserta didik sekolah tempat magang, penulis memiliki pemahaman tentang perencanaan dan penerimaan peserta didik baru. Kegiatan pembinaan peserta didik sebagaimana diatur dalam permendiknas nomor 39 tahun 2008 tentang pembinaan dimaksud adalah : Pembinaan budi pekerti luhur atau akhlak mulia; Melaksanakan tata tertib sekolah; Melaksanakan gotong royong dan kerja bakti (bakti sosial); Melaksanakan norma-norma yang berlaku dan tatakrama pergaulan; Menumbuhkembangkan kesadaran untuk rela berkorban terhadap sesama; Melaksanakan kegiatan 7K (Keamanan, kebersihan, ketertiban, keindahan, kekeluargaan, dan kedamaian ). Penulis juga mendapat informasi dan pengetahuan tentang kegiatan-kegiatan pengembangan diri siswa yang dikembangkan berdasarkan bakat, minat, kreativitas dan kemampuan siswa. Untuk mengembangkan penguasaan kompetensi dalam pengelolaan peserta didik, penulis akan lebih banyak membaca bahan-bahan pembelajaran terkait pengelolaan peserta didik dari berbagai sumber. Pemanfaatan TIK dalam Pembelajaran Setelah mempelajari bahan pembelajaran TIK dalam pembelajaran kemudian mengkaji pemanfaatn TIK dalam pembelajaran sekolah tempat magang, berdasarkan Permendiknas nomor 13 tahun 2007 kompetensi manajerial memiliki kemampuan mengoperasikan hardware dan software dalam presentasi multimedia pembelajaran dan pengaplikasian media pembelajaran TIK, penulis mendapat informasi tentang sumber daya sarana dan prasarana yang dimiliki sekolah yang masuk dalam ketegori TIK serta mendapat gambaran kompetensi pendidik (guru) dalam penguasaan TIK terutama komputer Monitoring dan Evaluasi Setelah mempelajari bahan pembelajaran monitoring dan evaluasi program sekolah kemudian mengkaji monitoring dan evaluasi sekolah tempat magang, berdasarkan Permendiknas nomor 13 tahun 2007 kompetensi manajerial mencapai terget kompetensi “Melakukan monitoring, evaluasi, dan pelaporan pelaksanaan program kegiatan sekolah dengan prosedur yang tepat, serta merencanakan tindak lanjutnya” Penulis belum mendapatkan hasil monitoring dan evaluasi yang dilaksanakan oleh sekolah magang berdasarkan prinsip-prinsip monitoring dan evaluasi sehingga belum memperoleh pengetahuan yang utuh yaitu paham secara teori dan praktek. Untuk meningkatkan penguasaan kompetensi penulis dalam pelaksanaan monitoring dan evaluasi program sekolah, maka penulis berharap agar dapat dilibatkan secara langsung dalam pelaksanaan monev program-program sekolah dimasa yang akan datang. E. Peningkatan Kompetensi Berdasarkan AKPK yang Kurang di Sekolah SMA NEGERI 1 PASEMAH AIR KERUH Untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan pengalaman yang sudah dimiliki berkenan dengan calon kepala sekolah, sebelumnya telah dilakukan penyebaran angket Analisis Kebutuhan Pengembangan Keprofesian kepada seluruh calon kepala sekolah yang mengikuti program tersebut oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Empat Lawang Tujuan dilakukannya AKPK bagi calon kepala sekolah adalah untuk mengidentifikasi bagian-bagian kompetensi yang dikuasai oleh calon kepala sekolah (merupakan kekuatan) yang ditunjukan melalui pengetahuan dan pengalamnya. Selain itu, juga untuk mengidentifikasi bagian-bagian kompetensi yang belum dikuasai oleh calon kepala sekolah (sebagai kelemahan) dan memerlukan pengalaman pengetahuna serta pengalaman, sehingga akan menjadi bahan pengembangan lebih lanjut dalam diklat calon kepala sekolah. Berdasarkan hasil penilaian Analisis Kebutuhan Pengembangan Kepofresian (AKPK) sebagai peserta diklat calon kepala sekolah memperlihatkan hasil sebagai berikut. Kompetensi Kode Jumlah Kepribadian 1 86 Kompetensi Manajerial 2 90 Kewirausahaan 3 93 Supervisi 4 78 Sosial 5 73 Diperoleh temuan kelemahan pada dimensi Sosial. Berdasarkan Analisis Kebutuhan Pengembangan Keprofesian (AKPK) di atas kelemahan yang ada pada diri calon kepala sekolah dalam kompetensi kewirausahaan dan sosial. Hal ini diakui oleh calon kepala sekolah terutama kompetensi kewirausahaan karena calon kepala sekolah memang belum mengerti secara mendalam tentang kewirausahaan di sekolah. Hal ini berpengaruh pada pengalaman kerja calon kepala sekolah dalam kompetensi-kompetensi yang masih kurang berdasarkan Analisis Kebutuhan Pengembangan Keprofesian (AKPK) tersebut cenderung lemah. Sebagai tindak lanjut dari hasil Analisis Kebutuhan Pengembangan Keprofesian (AKPK) calon kepala sekolah yang masih kurang atau sangat lemah, dan juga merupakan salah satu tugas dari kegiatan On the Job Learning (OJL), maka calon kepala sekolah harus meningkatkan kompetensi kewirausahaan dan sosial di sekolah magang 2, yaitu di SMA Negeri 1 Pasemah Air Keruh melalui kegiatan pengamatan/observasi terhadap usaha usaha kepala sekolah SMA Negeri 1 Pasemah Air Keruh dalam pengeloaan sekolah di bidang wirausaha dan sosial. Sebagai langkah awal dalam kegiatan ini, calon kepala sekolah melalui hal-hal berikut : Menemui kepala SMA Negeri 1 Pasemah Air Keruh, pada tanggal 28 Februari 2017, menyampaikan surat tugas magang sekolah 2 sekaligus menyampaikan maksud dan tujuan On the Job Learning (OJL) di sekolah magang 2 yaitu SMA Negeri 1 Pasemah Air Keruh Pada hari Rabu, tanggal 20 Maret 2017 kepala sekolah melakukan kajian aspek manajerial dan pada kesempatan itu juga calon kepala sekolah menyempatkan wawancara kepala sekolah seputar pengeloaan kewirausahaan dan sosial di sekolah yang beliau pimpin. Hasil dari wawancara dan studi dokumentasi calon kepala sekolah dapat menjabarkan bahwa Kepala sekolah SMA Negeri 1 Pasemah Air Keruh memanfaat kelebihan 2 jam pelajaran untuk membimbing siswa-siswi membuat onblok yang terbuat dari tanah liat. Setiap kelas Mendapat kesempatan 2 Jam pelajaran perminggu untuk mempratikkkan secara langsung pembuatan blok tanah liat tersebut. Sampai sekarang sudah terkumpul ribuan onblok yang bias dimanfaatkan untuk pembuatan pagar dan lain-lain.Walaupun belum mampu untuk dijual secara komersil tapi paling tidak sudah dapat menghemat pembelian batu bata yang diambil dari dana Bos.Demikian calon kepala sekolah dapat memetik pelajaran cara kepala sekolah SMA Negeri 1 Pasemah Air Keruh memberdayakan sekolah dari hal – hal kecil yang tampak tidak berarti tetapi bisa dirasakan manfaat yang dirasakan oleh seluruh warga sekolah Lebih Jauh calon kepala sekolah belajar untuk meningkatkan kemampuan dan pengetahuan di bidang sosial. Kepala sekolah melakukan kerja sama dengan Puskesmas setempat dalam melatih siswa di bidang P3K. Kepala sekolah juga melakukan kunjungan langsung kepada anak – anak yang terkena musibah tanpa mewakilkan kepada bawahan. Salah satu gaya kepemimpinan yang menarik yang calon kepala sekolah dapat pelajari berdasarkan hasil wawancara dengan guru – guru dan pegawai di SMA Negeri 1 Pasemah Air Keruh bahwa kepala sekolah tidak bersikap sebagai pimpinan yang otoriter tetapi lebih mengedepankan persaudaraan dan perhatian,karena itu guru – guru dan pegawai bekerja tidak merasa tertekan tapi merasa seperti berkerja dalam suasana kekeluargaan. Inti dari semua itu para guru dan pegawai berkerja karena kesadaran bukan karena takut kepada kepala sekolah. BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan Setelah melaksanakan kegiatan On the Job Learning (OJL) maka calon kepala sekolah dapat menarik kesimpulan bahwa Kemampuan guru dalam menyusun RPP Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) sangat menunjang dalam meningkatkan standar proses pendidikan di sekolah.Kepemilikan RPP dan perangkat pembelajaran lainnya merupakan hal yang sangat penting bagi seorang guru dalam mempersiapkan proses pembelajaran. Observasi guru junior juga merupakan upaya untuk meningkatkan kompetensi yang harus dimiliki seorang kepala sekolah. Lebih jauh Melakukan kajian manajerial merupakan sarana latihan mengasah kemampuan calon kepala sekolah dalam menelaah permasalahan yang ada di lapangan, dan mencari alternatif solusinya. Akhirnya,Meningkatkan kompetensai di sekolah lain merupakan kegiatan studi banding dan pengamatan terhadap salah satu kompetensi kepala sekolah. B. Saran-saran Berdasarkan kesimpulan yang ditemukan di atas, maka terdapat saran-saran yang perlu disampaikan sebagai berikut: Guru hendaknya dapat menyusun sendiri RPP Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) sehingga akan memudahkan dalam proses pembelajaran. Kepala sekolah hendaknya melakukan pemantauan terhadap RPP yang telah dibuat, dan melakukan monev terhadap proses pembelajaran melalui supervisi akademik. Supervisi akademik sebaiknya dilakukan berkesinambungan, sehingga dapat meningkatkan proses pembelajaran.Supervisi akademik seharusnya jadi kegiatan yang berguna untuk meningkatan kualitas guru dalam melaksanakan pembelajaran di kelas bukan untuk menekan dan menakuti guru dalam meninkatkan kinerja. Kepala sekolah juga tepat harus selalu melakukan kajian manajerial, agar dapat selalu mengetahui kekuatan dan kelemahan yang ada di sekolahnya, sehingga dapat membuat rencana program yang akan disesuaikan dengan kondisi di lapangan.