Senin, 10 Oktober 2022
PSIKOLOGI DAN PERMASALAHAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA
1.1 Pengertian psikologi secara umum
“Psikologi” berasal dari perkataan Yunani “psyche” yang artinya jiwa dan “logos” yang artinya ilmu pengetahuan. Secara etimologi psikologi artinya Ilmu yang mempelajari tentang jiwa, baik mengenai macam-macam gejalanya, prosesnya maupun latar belakangnya. Namun, para ahli juga berbeda pendapat tentang arti psikologi itu sendiri. Ada yang berpendapat bahwa psikologi adalah ilmu jiwa. Tetapi ada pula yang berpendapat bahwa psikologi adalah ilmu tentang tingkah laku atau perilaku manusia. (Mahfud, 1992: 6)
Carl Gustav Jung, seorang psikoanalisis dari Switzerland (1875- 1961) merupakan salah seorang sarjana yang banyak mencurahkan perhatiannya untuk menyelidiki arti kata psikologi ditinjau dari segi harfiahnya. la mencoba mencari arti dari kata "Psyche" dan arti kata- kata lain yang berdekatan misalnya, ia tertarik pada kata "Anemos" dalam bahasa Yunani berarti angin, sedangkan dalam bahasa Latin kata "animus" dan "anima" masing-masing berarti jiwa dan nyawa. Dalam bahasa Arab, ia mendapatkan kata-kata "ruh" yang berarti jiwa, nyawa ataupun angin. Dengan demikian, ia menduga bahwa ada hubungan antara apa yang bernyawa dengan apa yang bernafas (angin). Jadi psikologi adalah ilmu tentang sesuatu yang bernyawa.
Ada sebagian ahli psikologi yang mendefinisikan psikologi bertitik tolak dari anggapan bahwa psikologi haruslah mempelajari sesuatu yang nyata (konkret), maka ada sebagian sarjana yang mengartikan psikologi sama dengan karakterologi atau tipologi. Karakterologi adalah ilmu tentang karakter atau sifat kepribadian dan tipologi adalah ilmu tentang berbagai tipe atau jenis manusia berdasarkan karakternya. Jelas pendefinisian psikologi sebagai karak- terologi atau tipologi saja merupakan pendefinisian yang sempit. Memang psikologi juga mencakup karakterologi dan tipologi, tetapi psikologi bukan hanya mencakup kedua hal itu saja, melainkan lebih luas daripada itu. (1991: 5-7)
Bertolak dari definisi psikologi bahwa jiwa itu selalu diekspresikan melalui raga atau badan. Dengan mempelajari ekspresi yang tampak pada tubuh seseorang, maka kita akan dapat mengetahui keadaan jiwa orang yang bersangkutan. Bila berbicara tentang jiwa, terlebih dahulu kita harus membedakan antara nyawa dan jiwa.
Nyawa adalah daya jasmaniah yang adanya tergantung pada hidup jasmani dan menimbulkan perbuatan badaniah (organic behavior), yaitu perbuatan yang ditimbulkan oleh proses belajar. Misalnya, instink, reflek, nafsu dan sebagainya. Jika jasmani mati, maka mati pulalah nyawanya. Sedang jiwa adalah daya hidup rohaniah yang bersifat abstrak, yang menjadi penggerak dan pengatur perbuatan- perbuatan pribadi (personal behavior) dari hewan tingkat tinggi dan manusia. Perbuatan pribadi adalah perbuatan sebagai hasil proses belajar yang dimungkinkan oleh keadaan jasmani, rohaniah, sosial, dan lingkungan.
Karena sifatnya yang abstrak, maka kita tidak dapat mengetahui jiwa secara wajar, melainkan kita hanya dapat mengenal gejalanya saja. Jiwa adalah sesuatu yang tidak nampak, tidak dapat dilihat oleh alat diri kita. Demikian pula hakekat jiwa, tak seorangpun dapat mengetahuinya. Manusia dapat mengetahui jiwa seseorang hanya dengan tingkah lakunya. Jika tingkah laku itu merupakan kenyataan jiwa yang dapat kita hayati dari luar.
Pernyataan itu kita namakan gejala-gejala jiwa, di antaranya; mengamati, menanggapi, mengingat, memikir, dan sebagainya. Dari itulah kemudian orang membuat definisi, ilmu jiwa (psikologi) yaitu ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dalam hubungan dengan lingkungannya.
1.2 Pengertian psikologi Belajar
Pengertian “ Psikologi Pembelajaran Menurut Para Ahli Sebagai Berikut (Mahmud, 1991 : 12-15)
1. Lister D. Crow and Alice Crow, Ph. dalam bukunya "Educational Psychology" menyatakan bahwa psikologi pendidikan ialah Ilmu pengetahuan praktis yang berusaha untuk menerangkan belajar sesuai dengan prinsip-prinsip yang ditetapkan secara ilmiah dan fakta-fakta sekitar tingkah laku manusia.
2. W.S. Winkel dalam bukunya "Psikologi Pendidikan dan Evaluasi Belajar" menyatakan bahwa psikologi pendidikan adalah salah satu cabang dari psikologi praktis yang mempelajari prasarat-prasarat (fakta- fakta) bagi belajar di sekolah berbagai jenis belajar dan fase-fase dalam semua proses belajar. Dalam hal ini, kajian psikologi pendidikan sama dengan psikologi belajar.
3. James Draver, dalam "Kamus Psikologi". Psikologi Pendidikan (Educational Psychology); adalah cabang dari psikologi terapan (applied psychology) yang berkenaan dengan penerapan asas-asas dan penemuan psikologis problema pendidikan ke dalam bidang pendidikan.
4. Carl Witherington, dalam bukunya "Educational Psychology". Psikologi Pendidikan; adalah suatu studi tentang proses- proses yang terjadi dalam pendidikan. Belajar dapat didefinisikan sebagai aktivitas yang dilakukan individu secara sadar untuk mendapatkan sejumlah kesan dari apa yang telah dipelajari sebagai hasil dari interaksinya dengan lingkungan sekitarnya. Aktivitas di sini dipahami sebagai serangkaian kegiatan jiwa raga, psikofisik, menuju ke perkembangan pribadi individu seutuhnya, yang menyangkut unsur cipta (kognitif), rasa (afektif), dan karsa (psikomotorik). (2002: 2)
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa psikologi belajar adalah ilmu pengetahuan yang berusaha mempelajari, menganalisis prinsip-prinsip perilaku manusia dalam proses belajar dan pembelajaran.
1.3 Pembelajaran Matematika
Pembelajaran Matematika Pembelajaran matematika bagi para siswa merupakan pembentukan pola pikir dalam pemahaman suatu pengertian maupun dalam penalaran suatu hubungan diantara pengertian-pengertian itu. Dalam pembelajaran matematika, para siswa dibiasakan untuk memperoleh pemahaman melalui pengalaman tentang sifat-sifat yang dimiliki dan yang tidak dimiliki dari sekumpulan objek (abstraksi). Siswa diberi pengalaman menggunakan matematika sebagai alat untuk memahami atau menyampaikan informasi misalnya melalui persamaan-persamaan, atau tabel-tabel dalam modelmodel matematika yang merupakan penyederhanaan dari soal-soal cerita atau soal-soal uraian matematika lainnya (Inayati, 2012). Pembelajaran matematika adalah proses interaksi antara guru dan siswa yang melibatkan pengembangan pola berfikir dan mengolah logika pada suatu lingkungan belajar yang sengaja diciptakan oleh guru dengan berbagai metode agar program belajar matematika tumbuh dan berkembang secara optimal dan siswa dapat melakukan kegiatan belajar secara efektif dan efisien (Rusyanti, 2014).
Pembelajaran Matematika adalah proses pemberian pengalaman belajar kepada siswa melalui serangkaian kegiatan yang terencana sehingga siswa memperoleh kompetensi tentang bahan matematika yang dipelajari (Sudiati, 2014). Pembelajaran matematika merupakan suatu proses tidak hanya mendapat informasi dari guru tetapi banyak kegiatan maupun tindakan dilakukan terutama bila diinginkan hasil belajar yang lebih baik pada diri peserta didik. Belajar pada intinya tertumpu pada kegiatan memberi kemungkinan kepada peserta didik agar terjadi proses belajar yang efektif atau dapat mencapai hasil yang sesuai tujuan (Safarida, 2011).
Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran matematika adalah kegiatan belajar dan mengajar yang mempelajari ilmu matematika dengan tujuan membangun pengetahuan matematika agar bermanfaat dan mampu mengaplikasikannya dalam Kehidupan Sehari – hari
1.4 Pembelajaran Matematika di Sekolah
Keberhasilan sebuah pembelajaran tidak hanya di wujudkan dalam sebuah hasil prestasi siswa di sekolah, namun pembelajaran yang berhasil adalah pembelajaran yang mampu mengembangkan apa yang telah dipelajari disekolah dan mengaplikasikan ke dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu (Markaban, 2008).
Pembelajaran matematika disekolah diarahkan pada pencapaian standar kompetensi dasar oleh siswa. Kegiatan pembelajaran matematika tidak berorientasi pada penguasaan materi matematika semata, tetapi materi matematika diposisikan sebagai alat dan sarana siswa untuk mencapai kompetensi. Oleh karena itu, ruang lingkup mata pelajaran matematika yang dipelajari di sekolah disesuaikan dengan kompetensi yang harus dicapai siswa. Namun demikian, matematika dipelajari bukan untuk keperluan praktis saja, tetapi juga untuk perkembangan matematika itu sendiri. Jika matematika tidak diajarkan di sekolah maka sangat mungkin matematika akan punah (Fatimah, 2013). Berdasarkan beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa matematika di sekolah memiliki peranan yang sangat penting bagi siswa agar mereka memiliki bekal pengetahuan dan untuk pembentukan sikap serta pola pikirnya.
1.5 Tujuan Pembelajaran Matematika di Sekolah
Permendiknas No. 22 tentang Standar Isi Mata Pelajaran Matematika menyatakan bahwa pelajaran matematika
Bertujuan agar para siswa (Depdikbud, 2006) :
1. memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep, dan mengaplikasikan konsep atau algoritma secara luwes, akurat, efisien, dan tepat dalam pemecahan masalah.
2. menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika.
3. memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model, dan menafsirkan solusi yang diperoleh.
4. mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah
5. memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.
1.6 Fungsi Pembelajaran Matematika di Sekolah
Fungsi matematika adalah sebagai media atau sarana siswa dalam mencapai kompetensi. Dengan mempelajari materi matematika diharapkan siswa akan dapat menguasai seperangkat kompetensi yang telah ditetapkan. Oleh karena itu, penguasaan materi matematika bukanlah tujuan akhir dari pembelajaran matematika, akan tetapi penguasaan materi matematika hanyalah jalan mencapai penguasaan kompetensi.
Fungsi lain mata pelajaran matematika adalah sebagai: alat, pola pikir, dan ilmu atau pengetahuan. Ketiga fungsi matematika tersebut hendaknya dijadikan acuan dalam pembelajaran matematika sekolah. Berikut penjelasan mengenai fungsi pembelajaran matematika (Tonga, 2013):
1. Matematika sebagai suatu alat Guru hendaklah sangat diharapkan agar para siswa diberikan penjelasan untuk melihat berbagai contoh dalam penggunaan matematika sebagai alat untuk memecahkan masalah dalam mata pelajaran lain, dalam kehidupan kerja atau dalam kehidupan sehari-hari. Namun tentunya harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan siswa, sehingga diharapkan dapat membantu proses pembelajaran matematika di sekolah.
2. Matematika sebagai Pola Pikir Siswa diberi pengalaman menggunakan matematika sebagai alat untuk memahami atau menyampaikan suatu informasi misalnya melalui persamaan - persamaan, atau tabel-tabel dalam model-model matematika yang merupakan penyederhanaan dari soal-soal cerita atau soal-soal uraian matematika lainnya.
3. Matematika sebagai Ilmu atau Pengetahuan Sebagai ilmu pengetahuan.
pembelajaran matematika di sekolah harus diwarnai oleh fungsi yang ketiga ini. Sebagai guru harus mampu menunjukkan bahwa matematika selalu mencari kebenaran, dan bersedia meralat kebenaran yang telah diterima, bila ditemukan kesempatan untuk mencoba mengembangkan penemuan-penemuan sepanjang mengikuti pola pikir yang sah.
1.7 Kesulitan Pembelajaran Matematika di Sekolah
Pengertian Kesulitan Pembelajaran Matematika di Sekolah Kesulitan belajar dapat diartikan sebagai suatu kondisi dalam suatu proses belajar yang ditandai adanya hambatan-hambatan tertentu untuk mencapai hasil belajar. Hambatan-hambatan ini mungkin disadari dan mungkin tidak disadari oleh orang yang mengalaminya, dan dapat bersifat sosiologis, psikologis atau fisiologis dalam keseluruhan proses belajarnya (Alfani’ma, 2011).
Kesulitan belajar adalah suatu kondisi dimana kompetensi atau prestasi yang dicapai tidak sesuai dengan kriteria standar yang telah ditetapkan. Kondisi yang demikian umumnya disebabkan oleh faktor biologis atau fisiologis, terutama berkenaan dengan kelainan fungsi otak yang lazim disebut sebagai kesulitan dalam belajar spesifik, serta faktor psikologis yaitu kesulitan belajar yang berkenaan dengan rendahnya motivasi dan minat belajar (Hariyanto, 2011).
Menurut Lerner ada beberapa karakteristik anak berkesulitan belajar matematika, yaitu
1. adanya gangguan dalam hubungan keruangan,
2. abnormalitas persepsi visual,
3. asosiasi visual-motor,
4. perseverasi,
5. kesuliatan mengenal dan memahami simbol,
6. gangguan penghayatan tubuh,
7. kesulitan dalam bahasa dan membaca, dan
8. performance IQ jauh lebih rendah daripada sekor verbal IQ
Berikut ini akan diuraikan oleh Subini masing-masing kelompok kesulitan dalam belajar matematika (Fitriana, 2015) :
1. Mengelompokkan (classification) Classification merupakan kemampuan anak dalam mengelompokkan suatu benda berdasarkan sesuatu, misalnya ukuran, jenis, warna, bentuk dan sebagainya.
2. Membandingkan (comparation) Comparation adalah kemampuan untuk membandingkan dua buah benda berdasarkan ukuran ataupun jumlahnya.
3. Mengurutkan (seriation) Seriation adalah kemampuan membandingkan ukuran atau kuantitas lebih dari dua buah benda.
4. Menyimbolkan (symbolization) Symbolization adalah kemampuan membuat simbol atas kuantitas.
5. Konservasi Konservasi merupakan kemampuan memahami, mengingat, dan menggunakan suatu kaidah yang sama dalam proses (operasi) yang memiliki kesamaan. Berdasarkan beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa kesulitan belajar merupakan suatu kondisi di mana siswa tidak dapat belajar akibat adanya gangguan-gangguan sehingga berpengaruh terhadap kurangnya pemahaman siswa baik yang berasal dari dalam ataupun dari luar diri siswa itu sendiri sehingga tidak dapat mencapai hasil belajar yang maksimal.
Faktor Penyebab Kesulitan Pembelajaran Matematika Menurut Subini faktor penyebab kesulitan belajar pada siswa dibedakan menjadi dua, yaitu faktor internal dan eksternal (Fitriana, 2011).
Faktor Internal Faktor internal yaitu faktor yang berasal dari dalam diri siswa itu sendiri. Faktor ini merupakan faktor utama yang mempengaruhi kesulitan pada anak. Faktor internal dibagi menjadi dua, yaitu:
1. Faktor jasmaniah yang meliputi kesehatan Dapat menyebabkan munculnya kesulitan belajar pada siswa seperti kondisi siswa yang sedang sakit, adanya kelemahan atau cacat tubuh, dan sebagainya.
2. Faktor psikologi yang meliputi:
a. Kebiasaan Belajar Cara-cara belajar yang paling sering dilakukan oleh siswa dan cara atau kebiasaan belajar dapat terbentuk dari aktifitas belajar, baik secara sengaja ataupun tidak sengaja.
b. Intelegensi suatu kemampuan mental atau pun rohani yang melibatkan proses berpikir secara rasional untuk meyesuaikan diri kepada situasi yang baru.
c. Motivasi Belajar kecenderungan siswa dalam melakukan segala kegiatan belajar yang didorong oleh hasrat untuk mencapai prestasi atau hasil belajar sebaik mungkin.
d. Kecakapan Belajar
Faktor Eksternal Faktor eksternal adalah yang dipengaruhi oleh kondisi lingkungan di sekitar siswa. Faktor eksternal meliputi tiga hal antara lain:
1. Faktor keluarga Keluarga adalah lingkungan pertama yang paling berpengaruh pada kehidupan anak sebelum kondisi di sekitar anak (masyarakat dan sekolah). Pada lingkungan keluarga yang mempengaruhi tingkat kecerdasan atau hasil belajar pada anak yaitu cara mendidik anak, relasi antar anggota keluarga, suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga, pengertian orang tua, latar belakang kebudayaan.
2. Faktor sekolah Sekolah merupakan tempat belajar anak setelah keluarga dan masyarakat sekitar. Faktor lingkungan sekolah yang dapat mempengaruhi kesulitan belajar pada anak yaitu, guru, metode mengajar, instrumen atau fasilitas, kurikulum 10 sekolah, relasi guru dengan anak, relasi antar anak, disiplin sekolah, pelajaran dan waktu, standar pelajaran, kebijakan penilaian, keadaan gedung, tugas rumah.
3. Faktor masyarakat Selain dalam keluarga dan sekolah, anak juga berinteraksi dengan lingkungan masyarakat. Peran masyarakat sangat mempengaruhi individu dalam belajar. Setiap pola masyarakat yang mungkin menyimpang dengan cara belajar di sekolah akan cepat sekali menyerap ke diri individu, karena ilmu yang didapat dari pengalamannya bergaul dengan masyarakat akan lebih mudah diserap oleh individu daripada pengalaman belajarnya di sekolah. Jadi peran masyarakat akan dapat merubah tingkah laku individu dalam proses belajar
1.8 Pengertian Belajar
Menurut Hamalik, (1992) belajar mengandung pengertian terjadinya perubahan dari persepsi dan perilaku, termasuk juga perbaikan perilaku, misalnya pemuasan kebutuhan masyarakat dan pribadi secara lebih lengkap. Hilgard dan Brower dalam Hamalik (1992: 45) menyatakan bahwa belajar adalah perubahan dalam perbuatan melalui aktivitas, praktik, dan pengalaman. Sedangkan Sardiman (1990: 22) menyatakan bahwa belajar merupakan suatu perubahan tingkah laku atau penampilan, dengan serangkaian kegiatan seperti dengan membaca, mengamati, mendengarkan, meniru, dan lain sebagainya.
Barlow (1996: 61-63) menyatakan bahwa belajar adalah a process of progressive behavior adaptation (proses adaptasi atau penyesuaian tingkah laku yang berlangsung secara progresif). Di dalam Dictionary of Psychology disebutkan bahwa belajar adalah perolehan perubahan tingkah laku yang relatif menetap sebagai akibat latihan dan pengalaman.
Hintzman (1978) berpendapat bahwa “belajar adalah suatu perubahan yang terjadi dalam diri organisme, manusia atau hewan, disebabkan oleh pengalaman yang dapat mempengaruhi tingkah laku organisme tersebut”. Dalam pandangan Hintzman, perubahan yang ditimbulkan oleh pengalaman tersebut baru dapat dikatakan belajar apabila mempengaruhi organisme.
Dewey menambahkan bahwa pengalaman hidup sehari-hari dalam bentuk apa pun sangat memungkinkan untuk diartikan sebagai belajar. Alasannya, sampai batas tertentu pengalaman hidup juga berpengaruh besar terhadap pembentukan kepribadian organisme yang bersangkutan. Mungkin, inilah dasar pemikiran yang mengilhami gagasan belajar sehari-hari (everyday learning) yang dipopulerkan oleh Profesor John B. Biggs.
Reber (1989) membatasi belajar dengan dua macam definisi. Pertama, belajar adalah proses memperoleh pengetahuan (the process of acquiring knowlegde). Pengertian ini biasanya lebih sering dipakai dalam pembahasan psikologi kognitif yang oleh sebagian ahli dipandang kurang representatif karena tidak mengikutsertakan perolehan keterampilan nonkognitif. Belajar sebagai proses perubahan perlu diperhatikan pula upaya untuk mengubah mainseet siswa-siswi yang bias gender menjadi inklusif gender.
permanent change in respons potentiality which occurs as a result of reinforced practice). Dalam definisi ini terdapat empat macam istilah yang esensial dan perlu disoroti untuk memahami proses belajar. Istilah-istilah tersebut meliputi (1) secara umum menetap (relatively permanent); (2) kemampuan bereaksi (response potentiality); (3) yang diperkuat (reinforced);
Biggs (1991) mendefinisikan belajar dalam tiga macam rumusan, yaitu rumusan kuantitatif, rumusan institusional, dan rumusan kualitatif. Dalam rumusan-rumusan ini, kata-kata seperti perubahan dan tingkah laku tidak lagi disebut secara eksplisit mengingat kedua istilah ini sudah menjadi kebenaran umum yang diketahui semua orang dalam proses pendidikan. Secara kuantitatif (ditinjau dari sudut jumlah), belajar berarti kegiatan pengisian atau pengembangan kemampuan kognitif dengan fakta sebanyak-banyaknya. Jadi, belajar dalam hal ini dipandang dari sudut berapa banyak materi yang dikuasai siswa/siswi.
Secara institusional (tinjauan kelembagaan), belajar dipandang sebagai proses validasi (pengabsahan) terhadap penguasaan siswa/siswi atas materi-materi yang telah dipelajari. Bukti institusional yang menunjukkan siswa/siswi telah belajar dapat diketahui dalam hubungannya dengan proses mengajar. Ukurannya ialah semakin baik mutu mengajar yang dilakukan guru maka akan semakin baik pula mutu perolehan siswa/siswi yang kemudian dinyatakan dalam bentuk skor atau nilai.
Makmun (2003: 159) menyimpulkan bahwa perubahan dalam konteks belajar itu dapat bersifat fungsional atau struktural, material, dan behavioral, serta keseluruhan pribadi. Pendapat ini sejalan dengan pendapat Hilgard dan Bower (1981) yang mengemukakan bahwa belajar dapat diartikan sebagai perubahan tingkah laku yang relatif permanen dan yang merupakan hasil proses pembelajaran bukan disebabkan oleh adanya proses kedewasaan. Thorndike dalam Gala (2006: 51) berpendapat bahwa belajar adalah proses orang memperoleh berbagai kecakapan, keterampilan, dan sikap. Belajar merupakan tindakan dan perilaku siswa/siswi yang kompleks sebagai tindakan, maka belajar hanya dialami oleh siswa/siswi sendiri.
Timbulnya aneka ragam pendapat para ahli tersebut adalah fenomena perselisihan yang wajar karena adanya perbedaan titik pandang. Selain itu, perbedaan antara satu situasi belajar dengan situasi belajar lainnya yang diamati oleh para ahli juga dapat menimbulkan perbedaan pandangan. Situasi belajar menulis, misalnya, tentu tidak sama dengan situasi belajar matematika. Meskipun demikian, dalam beberapa hal tertentu yang mendasar mereka sepakat seperti dalam penggunaan istilah "berubah" dan "tingkah laku".
Berdasarkan berbagai definisi yang telah diutarakan di atas, secara umum belajar dapat dipahami sebagai tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yang relatif menetap sebagai basil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang Melibatkan Proses Kognitif.
Hubungan Psikokogi Dengan Permasalahan dalam Pembelajaran
hubungan psikologi mempunyai timbal balik, pendidikan mempunyai peran pada pembimbingan hidup individu dari lahir sampai masuk dalam liang lahat, dan pendidikan tidak berjalan tanpa adanya psikologi perkembangan. Watak dan juga kepribadian setiap individu tercermin dari psikologinya
Bentuk Permasalahan Pembelajaran Matematika di sekitar anda dari Segi Siswa
1. Kurang ada Keberanian Siswa Untuk Memberikan Pendapat / Bertanya Mengakibat Pembelajaran Bersifat Pasif Satu arah tanpa adanya timbal Balik dari siswa. Yang Terkadang siswa Tersebut Mera Takut Untuk Memberikan Pendapatnya
2. Aktifitas bertanya dalam kelas sangat rendah jadi Proses Pembelajaran dikelas hanya satu orang tanpa ada timbal balik dari siswa
3. Kurang adanya minat dan kreatifitas siswa untuk mendapatkan referensi lain baik dari Buku, internet jadi pembelajaran hanya terfokus menerima pembelajaran yang hanya disampaikan oleh guru yang dimaka terkadang dikejar oleh kurikulum dan waktu yang hanya sedikit
Permasalahan Pembelajaran Matematika di sekitar anda dari Segi Guru
1. Para guru cenderung menyelesaikan materi dari pada pemahaman materi matematika. Kalau pada suatu saat guru menghadapi kenyataan bahwa pemahaman siswa terhadap suatu konsep yang diajarkan belum memadai di satu sisi lain (sesuai kalender) materi harus diselesaikan, maka guru lebih memilih menyelesaikan materi.
2. Keputusan guru tersebut akan mengakibatkan proses pembelajaran berikutnya menjadi tidak efektif. Konsep berikutnya akan sulit dipahami siswa, karena konsep sebelumnya (yang mendasarinya) belum dikuasai dengan baik. Matematika mempunyai struktur yang bersifat hierarkis, sehingga dalam mempelajarinya haruslah bertahap dan berurutan serta mendasarkan pada pengalaman belajar yang lalu
3. Guru Matematika kesulitan Mengembangkan media Pembelajaran yang sesuai dengan materi yang disampaikan yang dapat lebih menarik siswa untuk mempelajari materi yang disampaikan
4. Guru Matematika Kesulitan menerapkan Metode Pembelajaran yang sesuai. Yang pada realitanya pembelajaran di sekolah masih menggunakan metode konfensional / tradisional yang dimana guru menjelaskan dan siswa mendengar dan mencatat seharusnya guru mengembangkan metode kopeeratif sesuai dengan materi yang disampaikan
Permasalahan Pembelajaran Matematika di sekitar anda dari Segi Lingkungan
1. Permasalahn segi lingkungan selalu ber asumsi bahwa pembelajaran matematika itu merupakan pembelajaran yang sulit hal ini mengakibatnya siswa terkadang kurang meminati pembelajaran matematika
2. Permasalahan kemajuan teknologi berpengaruh negative terhadap konsentrasi belajar peserta didik yang dimana dalam kemajuan teknologi internet. siswa lebih mementingkan menggunakan internet untuk media sosial, menonton youtube dan bermain game online ini menyebabkan tingkat kemandirian belajar yang sangat kurang
3. Permasalahan kurang aktif nya peserta didik mengikuti kegiatan organisasi di lingkungan misalkan Risma, Karang taruna Sehingga tidak adanya kreatifitas lain yang dapat membantu siswa untuk lebih membangun diri terutam di linkungan sekitar area tempat tinggal siswa
Permasalahan Pembelajaran Matematika di sekitar anda dari Segi Segi Orang Tua
1. Kurang Mampunya Orang Tua dalam membantu siswa dalam menyelesaikan Tugas yang diberikan oleh guru terutama dalam proses pembelajaran Daring dan Terkadang Kita Juga Harus Maklum Bahwa sebagian Besar Tingkat pendidikan orang siswa rata-rata Tamatan Sekolah Dasar
2. Kurangnya perhatian orang tua orang tua, dan fasilitas belajar matematika di rumah yang kurang, ini di karenakan kesibukan orang tua. karena di perdesaan mayoritas petani yang dimana pergi kerja ke lading subuh pulang magrib yang dimana jadi waktu untuk memberi perhatian sedikit berkurang karena pada waktu malam di jadikan waktu untuk istirahat. Hal ini terjadi di setiap harinya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar